Sketsa News
 
Home Citizen-Jurnalism Penderita Cerebal Palsy ini ternyata Jago coding Android Tingkat Dewa

Penderita Cerebal Palsy ini ternyata Jago coding Android Tingkat Dewa

Foto Bryan Penderita Cerebal Palsy yang jago Coding android saat berita ini diturunkan sudah mendapat 5,133 Retweets 3,928 Likes di lini massa twitter

Sketsanews.com – Seorang penderita Cerebal Palsy ternyata mampu menjadi proggramer Android, Full stack coding, bersertifikat pula. Hal ini tersingkap saat seorang bernama Bryan melamar pekerjaan.

Namanya bryan. hari ini dia datang ke kantor saya buat ngelamar kerjaan. dia (maaf) punya keterbelakangan mental. programmer android. full stack coding. beberapa sertifikat dia punya. saya kalah. semangatnya luar biasa. :))) begitu lah ciutan Yogo Anumerta @anumertas di twitterland.

Ilustrasi : Cerebral Palsy Awareness Month – Five New Research Findings to Benefit People with CP | Enabling Devices

Di twit setelahnya, Yogo meralat istilah keterbelakangan mental menjadi penderita Cerebal Palsy, pilihan diksi yang jauh lebih baik dan sesuai dengan realita penderitanya.

Akhirnya setelah mendapatkan banyak klarifikasi dari teman-teman, saya jadi tahu kalo nama sakitnya itu cerebral palsy. bukan keterbelakangan mental. maaf kalo saya salah menyebutkannya. dan Bryan, mulai senin sudah mulai bekerja di kantor kami. @anumertas

Ilustrasi :11 Things to Know about Cerebral Palsy | Features | CDC

Bahkan berdasar hasil wawancara Yoga, ternyata Bryan sudah mengembakan aplikasi untuk orang-orang difabel yang ditujukan untuk orang tua yang punya anak penderita Cerebal Palsy.

dia lagi ngembangin aplikasi untuk orang-orang difabel spt dia. aplikasi tsb ditujukan untuk orang tua yang punya anak begitu supaya mudah menyalurkan apa yang anak mau. gitu kurang lebih yang gue tangkep. @anumertas

Ilustrasi : Cerebral Palsy – Exercises That Can Help Your Child! | Lybrate

Cerebral palsy atau yang disebut dengan lumpuh otak adalah kelainan yang mempengaruhi otot, saraf, gerakan, dan kemampuan motorik seseorang untuk bergerak secara terkoordinasi dan terarah. Kondisi ini disebabkan oleh kerusakan otak yang terjadi sebelum atau selama kelahiran bayi, bahkan bisa juga saat anak usia 3 sampai 5 tahun.

 

(in)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: