Sketsa News
Home Berita, Berita Terkini, Ekonomi & Bisnis, Headlines, News Penurunan HET Rugikan Petani

Penurunan HET Rugikan Petani

Panen raya dan serap gabah di Lakbok, Ciamis (Foto: Dokumentasi Kementan)

Sketsanews.com, JakartaMenteri Perdagangan Enggartiasto Lukita menyiapkan penurunan Harga Eceran Tertinggi (HET) beras jenis medium dan premium. Dari surat Mendag yang ditujukan kepada Menko Bidang Perekonomian Darmin Nasution, penurunan HET beras itu berkisar dari Rp 550/kg hingga Rp 1.400/kg.

Menanggapi hal tersebut, Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP) menilai, penurunan HET pada akhirnya akan merugikan petani dan membuatnya semakin menderita.
Koordinator KRKP, Said Abdullah mengatakan, penurunan HET menjadi Rp 8.900 per kilogram akan menekan harga gabah di tingkat petani. Karena para tengkulak atau pelaku pasar akan tetap mempertahankan untung. “Petani menjadi aktor rantai nilai padi yang paling rentan ditekan pada situasi ini. Terlebih kebijakan HPP tidak bisa menetralisir situasi karena harga yang ditetapkan berada di bawah harga pasaran,” katanya dalam pernyataan tertulis yang diterima kumparan, Minggu (3/6).

Dalam perhitungan Said, jika HET dipatok Rp 8.900/kg maka margin harga beras hanya Rp 400/kg. Margin yang hanya sebesar itu akan diperebutkan oleh petani, tengkulak/penggilingan beras, distributor, hingga pengecer.
Dia menjelaskan, harga GKP saat ini Rp 4.000 rupiah/kg. Dengan memperhitungan biaya angkut dan giling, maka harga beras akan menjadi Rp 8.000/kg. Kemudian ditambahkan biaya giling dan ditribusi ke pasar Rp 500/kg maka harga beras menjadi Rp 8.500. “Dengan biaya produksi sebesar itu, maka dengan HET Rp 8.900/kg hanya ada margin Rp 400/kg yang diperebutkan oleh para pelaku di rantai produksi dan distribusi beras,” paparnya.
Persoalannya, lanjut dia, petani justru ada diposisi yang paling mudah untuk ditekan. Kalau dari penggilingan hingga pengecer mengambil margin paling besar, maka yang akan ditekan adalah harga pembelian gabah di tingkat petani.
Apalagi kebanyakan penggilingan mendapatkan gabah tidak langsung melakukan pembelian ke Petani, tetapi melalui calo pada level desa. Calo ini mengambil rata-rata keuntungan Rp 200/kg. Dengan demikian petani hanya akan menerima harga riil sekitar Rp 3.700-Rp 3.800/kg gabah. “Jadi penurunan HET ini akan semakin merugikan petani,” ujar Said.
Dia mengusulkan, ketimbang menurunkan HET beras, pemerintah seharusnya justru menaikkan HPP gabah yang sudah 3 tahun terakhir tak pernah dievaluasi. Bahkan menurut KRKP, jika perlu HPP gabah tidak diberlakukan. Soal kekhawatiran adanya permainan pelaku pasar dan susahnya akses masyarakat pada beras, dapat diantisipasi dengan pengawasan oleh tim pangan atau program sosial berupa pemberian pangan untuk rakyat miskin. (Ad)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: