Sketsa News
Home Berita Terkini, Editorial, Headlines Perburuan MCA merupakan Akhir Eposide Orang Gila

Perburuan MCA merupakan Akhir Eposide Orang Gila

Sketsanews.com, Jakarta – Situasi perpolitikan Indonesia menjelang Pilkada serentak mulai menghangatkan suasana.

Berbagai isu dimunculkan mulai dari internal partai pendukung calon, baik cagub maupun cawagub hanya untuk memenangkan partainya.

Sebagaimana yang beredar di beberapa media bahwa Megawati mengancam akan menyembelih kadernya yang kalah dalam pilkada Jawa Tengah.

Menurut Ahmad Yazid, seorang pengamat politik menilai bahwa meskipun pernyataan itu dalam konteks bergurau, sejatinya Megawati telah memberikan contoh pendidikan politik yang buruk. Apalagi biasanya diikuti dengan aksi “cap jempol darah” kader pendukung.

“Setelah pernyataan itu biasanya muncul reaksi kader yang berlebihan, yakni cap jempol darah untuk memenangkan Pilkada Jateng. PDIP memberikan contoh buruk dalam berdemokrasi,” jelas Yazid (05/02).

Selain itu, beberapa peristiwa terjadi yang akhirnya mencuat menjadi isu nasional. Sebut saja dengan munculnya teror kepada para ulama dan aktivis Islam yang dilakukan oleh orang yang diduga mengalami gangguan kejiwaan alias gila.

Namun demikian, beberapa pihak ingin menggiring opini bahwa kejadian yang menimpa para tokoh agama itu hanyalah bentuk kriminal biasa.

Ini adalah pendapat yang nyleneh bin ajaib, kenapa demikian, karena secara tabiat bahwa orang gila tidak akan melakukan penyerangan kecuali siapa saja yang ada di dekatnya. Beda sekali dengan beberapa kejadian ini, mereka tahu betul siapa yang akan jadi korbannya.

Seperti kita ketahui bahwa satu kasus belum terpecahkan masalahnya sudah muncul kasus lainnya.  Yaitu tertangkapnya beberapa orang yang diduga melakukan ujaran kebencian.

Di Banjarnegara, Jawa Tengah, dua warga ditangkap polisi karena menyebarkan ujaran kebencian, menghina salah satu partai politik jelang pelaksanaan pilkada serentak .

Pria berinisial A dan S yang merupakan oknum Aparatur Sipil Negara (ASN) di Banjarnegara, Jawa Tengah, ini terpaksa harus berurusan dengan pihak berwajib, karena untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya . Kedua pelaku ini kedapatan menyebarkan ujaran kebencian dan penghinaan parpol, jelang pelaksanaan pilkada serentak.

Pelaku menyebarkan ujaran kebencian yang menyatakan salah satu parpol peserta pemilu bersama PKI, akan membantai umat islam.

Penangkapan lain yang dilakukan oleh penyidik Subdit 1 Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri, adalah menangkap tersangka pelaku penyebaran berita bohong dan berkonten SARA melalui grup percakapan WhatsApp dan sosial media.

Kasubdit 1 Direktorat Tindak Pidana Siber Kombes Pol Irwan Anwar, di Jakarta, Kamis (22/2), mengatakan tersangka bernama Sandi Ferdian, ditangkap polisi pada Rabu (21/2) di Way Kanan, Lampung.

Sandi ditangkap karena telah memposting berita hoax dan ujaran kebencian di akun fb miliknya, yakni “Megawati minta pemerintah tiadakan adzan di masjid karena suaranya berisik” dan “Selamatkan anggota kami. Anggota PKI adalah anggota paling suci sedangkan Islam itu sesat”.

Dan yang tidak kalah serunya adalah perburuan Muslim Cyber Army (MCA), seakan-akan menjadi kuatlah opini mereka bahwa penganiayaan terhadap Kyai dan ulama yang dilakukan oleh orang gila hanyalah berita hoaks.

Sehingga banyak yang berpendapat bahwa dengan ditangkapnya beberapa aktivis MCA akan berakhir juga isu orang gila dan isu kebangkitan PKI.

Pertanyaan dan sekalian sebagai kesimpulan adalah “Benarkah MCA sebagai otak dari semua peristiwa yang terjadi di negeri ini. Atau mereka hanya sebagai korban dari pihak yang punya kepentingan untuk menguatkan opini mereka bahwa penganiayaan para ulama hanya merupakan kejahatan biasa”.

(jp)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: