Perjalanan Pray for Lombok By ASLI Malang

 

Penulis: Imam Muchlis

Sketsanews.com, Lombok – Dalam rangka ambil bagian untuk misi kemanusiaan atas korban bencana alam gempa bumi di Lombok, Nusa Tenggara Barat, Komunitas Pedul Malang Asli Malang mengirimkan bantuan serta relawan untuk para korban gempa.

Bantuan yang kami bawa merupakan hasil penggalangan dari warga Malang Raya, lintas komunitas, instansi, pengusaha, serta pekerja luar negeri yang dihimpun sejak awal Agustus 2018.

Tim yang terdiri dari Komunitas Peduli Malang Asli Malang yakni Bambang Indra Bastian, Ardian Wibowo, Pre Arifin, Tri Wahyuni, yang juga sebagai koordinator Asli Malang, Sony Harmoko, Ahmad Agus Salim, Irfandi Ramadhan, Eko Budianto, serta Sugeng Hariyanto. Selain itu, dalam perjalanan kemanusiaan itu juga turut serta perwakilan dari Duta Damai Dunia Maya (BNPT) juga yakni, Abdik dan Andika. Sementara itu, ada juga seorang netizen Malang Kota Monica Maulidia Dwi Yulianti, serta seorang Jurnalis.

Kami memulai perjalanan pada hari Kamis, 6 September 2018, dari posko (FKPM) Forum Kemitraan Polisi dan Masyarakat Jl. Veteran Malang pada pukul 12.00 WIB, dengan membawa satu truk dan satu mobil pick-up berisi bantuan yang terdiri dari, sembako, terpal, tenda, pakaian layak pakai, pembalut wanita, serta obat-obatan. Selain itu, kami juga membawa satu unit mobil ambulans milik Komunitas Peduli Malang Asli Malang.

Perjalanan ditempuh melalui Kota Pasuruan, Situbondo dan dilanjutkan menuju Pelabuhan Ketapang Banyuwangi.

Pada pukul 20.00 WIB kami sampai di Pelabuhan Ketapang, dan istirahat sejenak sembari menikmati nasi bungkus seharga Rp.6000, dengan lauk ikan tongkol plus kerupuk. Baru pada pukul 21.30 WIB kami memulai perjalanan mulai menyebrang dengan menggunakan KMP Gerbang Samudra II menuju Pelabuhan Ketapang Bali.

 

 

Pukul 23.40 WITA kapal KMP Gerbang Samudra II mulai bersandar dan kami pun langsung meluncur menuju Denpasar untuk beristirahat di kantor Arema Dewata. Baru pada pukul 03.30 WITA relawan Asli Malang telah tiba di Paguyuban Arema Dewata. Setibanya di Kantor Arema Dewata, kami di sambutan hangat oleh pengurus Paguyuban. Tak hanya itu, rombongan relawan Asli Malang juga diberi suguhan pisang goreng bersama dengan kopi serta teh panas.

Seusai melepas penat, kami melanjutkan perjalanan menuju Pelabuhan penyeberangan Padang Bai. Namun perjalanan kami dihentikan di Taman Lalu-lintas Kota Denpasar oleh Aremania Bali, dan ternyata penghentian itu merupakan suatu sambutan untuk kami guna menikmati sarapan. Begitulah solidaritas Aremania untuk relawan Asli Malang.

Selepas menikmati suguhan makan pagi, relawan Asli Malang segera meluncur menuju pelabuhan Padang Bai untuk melanjutkan menuju pelabuhan Lembar, Nisa Tenggara Barat.

Setelah melakukan perjalanan selama 5 jam, kami telah sampai di pelabuhan Lambar pada pukul 16.30 WITA dan segera meluncur menuju Lombok Utara. Baru pada pukul 22.00 WITA relawan dari Malang telah sampai di Posko Gimbal Alas Indonesia di Tembobor, Kecamatan Tanjung, Lombok Utara.

Mulai Aktifitas

8 September 2018 tim relawan dari Komunitas Peduli Malang Asli Malang yang tergabung dengan relawan Malang Raya mulai terbagi kedalam tiga kelompok yakni menyalur bantuan, penggempuran sisa-sisa bangunan rusak akibat gempa, serta terapi healing.

 

 

Tim pertama yang dikomando Tri Wahyuni mendistribusikan bantuan berupa terpal, sembako, pakaian, makanan bayi, serta obat-obatan langsung meluncur ke salah satu desa di bilangan Kecamatan Tanjung.

Adapun tim kedua dari relawan yang bertugas menggempur sisa-sisa bangunan rusak berupa kios milik Muhibbin di desa Tembobor. Sang pemilik merasa sangat bahagia dengan adanya relawan yang membantu merobohkan sisa bangunan karena sisa bangunan itu sangat membahayakan sekali. Tak hanya itu, seusai merobohkan kami tim relawan Malang disuguhi dua buah gedhang sebutan buah pepaya bagi masyarakat Lombok Utara.

Sementara itu, tim terapi healing beraktifitas bersama dengan anak-anak pengungsi korban gempa Lombok dengan tujuan memberikan semangat dan motovasi pasca musibah.

Setelah selesai menjalankan aktivitasnya masing-masing, maka kami sejenak melepas penat dan lelah berupa refreshing di pantai Tembobor yang hanya berjarak sekitar 750 m dari Posko tempat tinggal kami.

 

 

Tiupan angin pantai disore hari ditambah dengan perjalanan tenggelamnya sang surya membuat rasa lelah menjadi hilang seketika.

Malam harinya, relawan asal Malang Raya segera berkemas mempersiapkan segala bentuk barang bantuan yang akan didistribusikan pada hari berikutnya.

Pendistribusian pada tanggal 9/9/2018 menuju kesembilan titik lokasi di wilayah Kecamatan Tanjung yang meliputi Posko Dusun Boro, Onggong Daya, Mur Pubuan Baru, Mekar Sari, Ongging Lauk, Dusun anyar, Beriri Ganteng, Batu Lilin dan Tangak. Dengan rincian, Beras, Pampers, pembalut wanita, alat mandi, susu, snack, serta terpal.

Sore harinya saya sengaja berkunjung kesalah satu komplek permukiman warga Tembobor yang sala satu anggota keluarganya menjadi korban jiwa karena tertimpa dinding rumah dalam musibah gempa Lombok.

 

 

Memasuki lembar berikutnya yakni pada 10 September 2018, pendistribusian dilanjutkan ke 5 titik lokasi di wilayah Kecamatan Tanjung, yakni, Posko Dusun Orang Kelas, Marjumeng Polaru, Betumping, dan Marpumeneng. Misi kemanusiaan ini menghantarkankan bantuan kepada korban gempa berupa sembako, obat-obatan, perlengkapan bayi, susu, alat sholat, terpal, serta pakaian.

Pada tanggal 10 September ini juga saya bersama relawan lainnya menggempur serta merobohkan sisa rumah milik Dadang yang mana satu rumah dihuni oleh tiga keluarga. Disini saat saya sedang membongkar reruntuhan dinding, saya menemukan sebuah buku berjudul “Memahami Arti Sebuah Musibah” karya Ust. Abi Radju a.n Nakhrawie. Saat itu juga saya mencari pemilik rumah. Dadang pun menceritakan bahwa salah satu anggota keluarganya menjadi korban jiwa saat terjadinya gempa Lombok karena tertimpa balok,  atap serta dinding rumah.

 

 

Pada kesempatan lain, seusai melakukan aktifitas pendistribusian, saya bersama Bambang dan Tri Wahyuni mengunjungi salah satu Salter di wilayah Gangga, yang dibangun diatas lahan pertanian oleh komunitas I-Deru. Bersama dengan tim relawan lainnya, I-Deru membangun salter berupa Hunian sementara (Huntara). Rencananya Huntara tersebut akan disulap menjadi Huntara Warna-warni. Ditempat pembangunan salter itu merupakan celah diantara dua bukit sehingga kondisi angin cenderung bertiup lebih kencang. Disini saya melihat warga pengungsi melaksanakan sholat di dalam tenda darurat dengan terpaan angin bercampur debu.

Ditempat itu juga didirikan sekolah darurat bagi anak-anak korban gempa. Sekolah yang hanya beralaskan terpal itu diikuti sebanyak 315 siswa.

Hingga tibalah pada hari terakhir misi kemanusiaan dari relawan dari Komunitas Peduli Malang Asli Malang di Lombok, kami bersiap melanjutkan perjalanan kembali menuju Kota Malang di Pulau Jawa.

 

 

Malam itu kami berpamitan dengan Komunitas Sahabat Gimbal Alas untuk menghaturkan rasa terimakasih atas bantuannya mengizinkan kami bergabung. Selanjutnya, malam itu juga kami langsung meluncur menuju Mataram dan langsung menuju Bali dan selanjutnya menuju Kota Malang di Pulau Jawa.

Terimakasih kepada semua pihak yang telah mendukung Perjalanan Pray Lombok dari Komunitas Peduli Malang Asli Malang dalam misi kemanusiaan untuk korban gempa Lombok.

Harapan kami semoga Lombok segera bangkit seperti sediakala dan segera berkembang dalam pembangunan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: