Perlukah Vaksinasi Rotavirus secara Nasional?

Sketsanews.comROTAVIRUS merupakan virus penyebab diare paling sering pada bayi dan anak yang ditularkan melalui kontak dengan tinja penderita atau pembawa virus yang sehat. Diare yang parah menyebabkan dehidrasi dan bahkan kematian jika tidak ditangani dengan baik. Data terbaru World Health Organization memperkirakan 215.000 kematian anak di seluruh dunia akibat infeksi saluran cerna oleh rotavirus pada 2013.

Perlukah Vaksinasi Rotavirus secara Nasional? 2019

Di Indonesia, rotavirus juga dilaporkan sebagai penyebab utama diare pada anak di bawah usia 5 tahun. Rotavirus ditemukan positif pada 60 persen pasien rawat inap dan 41 persen pasien poliklinik dengan keluhan utama diare. Infeksi rotavirus diamati sepanjang tahun dengan sedikit peningkatan selama musim kering dan sejuk. Bahkan, di beberapa tempat seperti Papua dan Nusa Tenggara Timur, rotavirus juga dilaporkan sebagai penyebab kejadian luar biasa (KLB) diare melalui sumber air utama yang tercemar. Selain diare, anak-anak umumnya mengalami muntah dan demam yang diikuti nyeri perut dan dehidrasi. Infeksi pertama cenderung paling berat karena tubuh belum memiliki kekebalan terhadap rotavirus. Oleh sebab itu, infeksi rotavirus sangat jarang ditemukan pada orang dewasa.

Vaksin rotavirus secara resmi diwajibkan pada 2006 di beberapa negara Benua Amerika. Dua vaksin yang telah berlisensi adalah RotaTeq® (Merck & Co., Inc., West Point, PA, USA) dan Rotarix® (GSK Biologicals, Belgium). Rotarix® terdiri atas satu jenis rotavirus yang menginfeksi manusia dan diberikan dua kali pada usia 2 dan 4 bulan. Sedangkan RotaTeq® mengandung lima jenis kombinasi rotavirus yang menginfeksi manusia dan sapi, diberikan tiga kali pada usia 2, 4, dan 6 bulan. Kedua jenis vaksin diberikan secara tetes melalui mulut.

Sesuai dengan penelitian di banyak negara, vaksin rotavirus efektif mencegah diare akibat rotavirus pada bayi dan anak. Hingga Agustus 2018, tercatat 98 negara telah mewajibkan vaksinasi rotavirus dalam program imunisasi nasional mereka. Bahkan, lebih dari 30 negara di Benua Afrika telah melakukan vaksinasi rotavirus terhadap semua bayi dengan bantuan Global Alliance for Vaccines and Immunizations (GAVI).

Di negara-negara Afrika, vaksin rotavirus terbukti menurunkan angka perawatan di rumah sakit akibat infeksi saluran cerna oleh rotavirus hingga 70 persen (rentang 32–70 persen). Sedangkan di negara maju, angka tersebut mencapai 94 persen (rentang 45–94 persen). Angka kematian anak akibat diare secara keseluruhan juga turut serta menurun hingga 64 persen.

Para peneliti di Lembaga Penyakit Tropis (ITD) Universitas Airlangga (Unair) kembali mengemukakan hasil evaluasi menarik dalam publikasi terbarunya yang berjudul Post-vaccinated asymptomatic rotavirus infections: A community profile study of children in Surabaya, Indonesia.

Penelitian yang dimuat dalam Journal of Infection and Public Health pada 2019 volume 12 halaman 625–629 tersebut mengikuti perkembangan pada 30 bayi dan anak di Surabaya yang telah mendapatkan vaksin rotavirus lengkap selama satu tahun. Tinja bayi dan anak yang terdaftar dikumpulkan sebulan satu kali. Jika bayi atau anak mengalami diare juga diminta untuk mengumpulkan sampel diare. Penelitian tersebut dilaksanakan pada 2016 saat vaksin rotavirus mulai tersedia luas sehingga jumlah anak yang dapat diikuti masih terbatas. Tempat tinggal 30 subjek ini tersebar di Kota Surabaya untuk memastikan hasil yang mewakili lingkungan yang berbeda-beda.

Dari analisis seluruh tinja bayi sehat yang dikumpulkan, ditemukan dua yang positif rotavirus. Sedangkan semua tinja bayi dengan kondisi diare yang dialami delapan bayi dan anak selama masa penelitian, hasilnya tidak ditemukan rotavirus. Hal ini ditunjukkan dengan tidak adanya gejala infeksi rotavirus pada kedua bayi yang tinjanya positif rotavirus tersebut.

Sampel yang positif rotavirus kemudian diperiksa lagi menggunakan teknik sekuensing atau pengurutan materi genetik virus. Sekuensing dilakukan untuk menentukan identitas tipe genetik virus yang terisolasi. Hasilnya menunjukkan bahwa identitas rotavirus yang ditemukan dalam tinja bayi sehat ternyata sama dengan identitas rotavirus-rotavirus yang ditemukan pada bayi atau anak yang sebelumnya dirawat di rumah sakit karena diare pada masa yang sama.

Temuan ini mendukung banyak penelitian sebelumnya yang menyatakan bahwa vaksin rotavirus efektif mencegah diare akibat rotavirus karena pada penelitian ini bayi yang tinjanya positif rotavirus justru tidak mengalami diare dan tetap sehat. Sedangkan diare yang dialami subjek selama masa penelitian mungkin disebabkan infeksi atau penyebab lainnya karena hasil rotavirusnya negatif.

Hingga saat ini, vaksin rotavirus masih tergolong imunisasi pilihan (tidak wajib) di Indonesia. Artinya, belum menjadi program imunisasi nasional. Mengingat pada semua bayi dengan vaksinasi lengkap rotavirus yang diteliti tidak didapatkan diare yang mengandung rotavirus, sangat disarankan imunisasi rotavirus pada semua bayi menjadi program nasional di Indonesia.

Selain itu, dalam kondisi imunisasi yang tidak merata, bayi sehat yang tinjanya positif rotavirus dapat disebut sebagai ’’karir (pembawa) sehat’’ yang berpotensi menularkan virus tersebut kepada bayi dan anak lainnya. Oleh karena itu, sekali lagi, pemerataan imunisasi rotavirus sangatlah penting untuk mencapai kekebalan komunitas.

Infeksi rotavirus termasuk penyakit self-limiting yang dapat sembuh dengan sendirinya. Sehingga penanganannya berfokus pada tata laksana dan pencegahan dehidrasi dengan pemberian oralit setelah setiap kali diare. Pemberian air susu ibu (ASI), susu, dan makanan harus tetap dilanjutkan. Orang tua perlu waspada akan tanda-tanda dehidrasi berat, yaitu anak tampak lemah dan tidak mau minum. Dalam kondisi demikian, anak harus segera dibawa ke fasilitas kesehatan terdekat untuk penanganan lebih lanjut.

Rotavirus yang berada di lingkungan sangat resistan dan dapat bertahan selama berbulan-bulan di dalam tinja. Selain vaksinasi, kesadaran akan kebersihan dalam rumah tangga dan masyarakat adalah kunci utama dalam mencegah penyebaran dan menurunkan angka infeksi rotavirus. (*)

*) Emily Gunawan, Dokter alumnus Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Airlangga

**) M. Inge Lusida, Guru besar dan ketua Lembaga Penyakit Tropis FK Universitas Airlangga

Sumber : Jawapos

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: