Polisi Usut Pembakaran Surat Suara oleh KKB di Nduga Papua

Ilustrasi surat suara. Foto: CNN

Ilustrasi surat suara. (Ist) 

Sketsanews.com, Jakarta – Kapolres Jayawijaya Ajun Komisaris Besar Tonny Ananda Swadaya mengatakan petugas masih melakukan perampasan dan pembuatan surat suara Pemilu 2019 yang dilakukan kelompok kriminal mendorong ( KKB ) di Kabupaten Nduga, Papua .

Menurut dia, pemilu logistik yang dibakar adalah surat suara untuk masyarakat untuk Distrik Meborok, Nduga.

“Kami masih melakukan penyelidikan untuk mengetahui modus-mode seperti ini, sebab saat kejadian anggota kami tidak tahu karena jarak kejadian jauh dengan polsek,” katanya di ibu kota Jayawijaya, Wamena, Rabu (24/4) seperti yang diminta dari Antara .

Wilayah Kabupaten Nduga Sudah mengetahui keamanannya masih ada di bawah Polres Jayawijaya. Nduga sendiri merupakan daerah pemekaran dari Kabupaten Jayawijaya.

Tonny mengatakan kelompok yang membawa senjata api laras panjang merampas dan membakar logistik pemilu itu pada 22 April lalu, dan memenangkan petugas pemilu.

“Intinya mereka meminta tidak boleh ada pelaksanaan pemilu di Distrik Mebarok, mereka merampas dan membakar logistik pemilu serta berita acara tingkat PPS dan PPD,” katanya.

Polisi memenangkan aksi KKB yang ditunggangi oknum calon peserta pemilu Kabupaten Nduga yang tidak puas dengan jumlah suara yang diperoleh.

“Memang aksi perampasan ini benar, cuma saja jangan sampai kelompok ini ditunggangi elit politik yang kecewa dengan hasil pemilihan yang sudah dilakukan,” katanya lagi.

Tonny mengatakan saat ini sedang dikoordinasikan dengan KPU Nduga terkait langkah selanjutnya atas surat suara warga yang dibakar tersebut.

Sementara itu kepada CNNIndonesia.com , Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) mengaku bertanggung jawab atas surat suara pemilu di Kabupaten Nduga, Papua.

Egianus Kogoya, yang berada di garis komando TPNPB, sebagai otak dari pengembangan tersebut.

Juru bicara TPNPB, Sebby Sambom, membenarkan kabar tersebut. Konfirmasi ini didasari laporan yang sudah diterima.

“Ya benar, kami sudah menerima laporan,” kata Sebby lewat pesan singkat, Rabu (24/4).

Motif pembakaran oleh kelompok Kogoya disebut sebagai bentuk koreksi program pemerintah. Sebby mengatakan pihaknya hanya berkeinginan Papua merdeka dan memiliki hak politik.

“Menolak semua program pemerintah Indonesia dan menuntut hak politik bangsa Papua untuk merdeka sendiri,” ucapnya.

Pembakaran surat suara di Kabupaten Nduga ini dikabarkan terjadi di Distrik Meborok pada hari Senin, 22 April 2019. Para pelaku terkait menyertai aksinya yang menentang kampanye pemilu.

Melansir dari laman CNNIndonesia, kelompok Kogoya ini juga berada di balik penyerangan pasukan TNI di halaman kantor Distrik Nirkuri, Nduga.

Kapendam XVII Cenderawasih, Kolonel Inf Muhammad Aidi, menyebut dua prajuritnya yang terluka karena serangan dadakan tersebut.

Aidi menuturkan kedua prajurit itu sudah dalam perawatan di RSUD Timika dan dalam keadaan stabil.

Selain di distrik Meborok itu, sempat pula diputar video mengeluarkan surat suara di Distrik Tingginambut, Kabupaten Puncakjaya, Papua. Namun setelah diselidiki kemarin, polisi menyatakan surat suara yang dibakar itu merupakan surat suara Pemilu 2019 yang sudah tidak terpakai. (Lis)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: