Polri Ajak Guru Bentengi Generasi Muda dari Paham Radikal

Kanit V Satintelkam Polres Malang Kota Ipda Lubis Ibroril Chosam memberikan pembekalan kepada guru Agama dan PPKN terkait bahaya radikalisme dan terorisme, Rabu,  5/12/2018.(Foto: Imam Muchlis/Sketsanews.com)

Sketsanews.com, Malang – Kepolisian Resort Malang Kota melalui Satintelkam menggelar kegiatan pembinaan dan pengembangan karir PTK melalui penguatan guru bidang studi Agama dan PPKN, Rabu, 5/12/2018.

Kegiatan yang digelar di Meeting Room The Ballava Hotel Jl. Kolonel Sugiono, Kota Malang itu dihadiri oleh 400 guru SD dan SMP diwilayah Kota Malang.

Pada kegiatan itu seluruh guru Agama dan PPKN mendapatkan materi terkait dengan bahaya radikalisme dan terorisme, dengan harapan dapat membentengi para generasi muda dari paham radikal yang dapat menghancurkan keutuhan NKRI.

Kanit V Satintelkam Polres Malang Kota Ipda Lubis Ibroril Chosam, menyampaikan, peran guru Agama dan PPKN sangat dibutuhkan dalam membentengi generasi muda dari pemahaman radikalisme.

(Foto: Imam Muchlis/Sketsanews.com)

Baca juga: Dua Kali Beraksi, Pelaku Pencurian Berhasil Diringkus Polisi

“Radikalisme itu suatu tindakan memaksakan kehendak atau ideologi yang diinginkan dengan cara kekerasan, drastis dan cepat. Hal itu bertentangan dengan ideologi Pancasila, seperti Komunis”, tegas Ipda Lubis.

Sedangkan radikal kanan salah satu diantaranya yakni ormas HTI yang menghendaki berkembangnya Ideologi Khilafah Islamiyah untuk menggantikan Ideologi Pancasila.

Radikalisme tidak mewakili agama apapun tidak ada agama di Indonesia yang mengajarkan Radikalisme, namun semua agama dan kepercayaan ketika difahami dengan cara yang salah akan berpotensi untuk melahirkan Radikalis.

Dikatakan, munculnya radikalisme agama bermula dari ketidaktahuan terhadap ilmu agama, semangat yang berlebihan, serta kekeliruan dalam menilai sikap perilaku prilaku umat lain. Selain itu ada radikalisme yang muncul karena adanya pengaruh dari luar negeri.

Baca juga: BKSDA Gagalkan Jual-beli Lutung Jawa di Kota Malang

(Foto: Imam Muchlis/Sketsanews.com)

“Akar dari Radikalisme sesungguhnya adalah intoleransi yang tidak dapat menerima perbedaan dengan keyakinan orang lain. Radikalisasi Islam itu proses adopsi ideologi agama islam namun menganjurkan kekerasan untuk membuat perubahan sosial”, tukas Lubis.

Tak hanya itu, Satintelkam Polres Makota juga menjelaskan terkait radikalisme dan intoleransi melalui media sosial yang sedang marak dibera millenial. Beberapa pemicunya diantaranya ialah penyebaran berita hoax, penyebaran propaganda intoleransi dan ujaran kebencian yang pada akhirnya bermuara pada disintegrasi bangsa.

“Ini merupakan modal awal untuk membentuk pemahaman kontra radikal di kalangan siswa dan guru, sehingga paham radikal tidak berkembang”, katanya.

Lebih lanjut Lubis menghimbau kepada tenaga pendidik untuk memberikan pendidikan secara benar kepada para siswa. “Lewat pembekalan ini, mari kita bekerja bersama sesuai dengan bidang dan tugas kita memberikan yang terbaik untuk bangsa dan negara ini”, pungkas Ipda Lubis. (Im)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: