Sketsa News
Home Berita Terkini, Editorial, Headlines Polri Tebang Pilih Dalam Kasus Kriminalisasi

Polri Tebang Pilih Dalam Kasus Kriminalisasi

Sketsanews.com, Jakarta – Berbagai kasus telah menghangatkan suasana negeri ini melalui media sosial terkait penganiayaan para ulama dan aktivis Islam. Satu kasus belum terpecahkan masalahnya sudah muncul kasus lainnya yang justru menambah panas. Bagaimana tidak panas suasananya, untuk menentukan apakah pelaku penganiayaan terhadap Kyai dan ulama itu orang gila beneran atau berpura-pura gila sudah muncul kasus penyerangan gereja Lidwina di Sleman.

Bahkan yang sangat mengagetkan adalah terbunuhnya terduga teroris Muhammad Jefry oleh pihak aparat. Satu kasus penyiksaan dan pembunuhan dilakukan Detasemen Khusus (Densus) 88 terhadap seorang Muslim. Beberapa waktu lalu, kasus seperti itu pernah menimpa Siyono di Klaten dan kali ini yang menjadi korban kebrutalan Densus 88 adalah Muhammad Jefri alias Abu Umar (32).

Detasmen Khusus (Densus) 88 Antiteror kembali menangkap dua orang terduga teroris di daerah Indramayu, Jawa Barat, pada Rabu (7/2) kemarin. Kedua terduga teroris tersebut merupakan sepasang suami dan isteri atas nama Muhammad Jefri (32) dan Ardilla (18).

Kematian yang terjadi pada Muhammad Jefri ini menurut pengamat terorisme Mustofa B Narahwardaya sama seperti kasus kematian Siyono Klaten. Saat itu, Siyono diculik Densus 88 setelah menunaikan sholat Maghrib berjamaah di sebuah Masjid yang berada disamping rumahnya. Beberapa hari kemudian, Siyono dibawa pulang Densus 88 sudah menjadi mayat.

“Komnas HAM harus turun tangan. Jika perlu kembali meminta pada pihak yang netral untuk mengotopsi jenazah MJ karena pihak keluarga dikabarkan tidak boleh melihat jenazah korban. Ini mirip Siyono. Dijemput sehat, pulang jadi mayat,” Mustofa yang juga pengurus PP Muhammadiyah menulis di akun Twitter-nya pada Ahad (11/2).

Namun yang sangat disayangkan adalah sikap dari aparat kepolisian yang begitu gampangnya mengeluarkan pernyataan bahwa penganiayaan terhadap Kyai dan aktivis Islam hanya merupakan kriminalitas biasa padahal mereka sudah jelas-jelas melakukan teror dengan menganiaya bahkan menghilangkan nyawanya.

Dan yang tidak kalah serunya adalah justru melakukan tindakan yang arogan terhadap orang yang baru dinyatakan sebagai terduga melakukan tindakan terorisme mereka langsung dihabisi.

Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian mengatakan, semua kasus yang berhubungan dengan pemuka dan tokoh agama adalah kasus kriminal biasa. Rata-rata antara pelaku dan korban sudah saling mengenal.

“Kasusnya kita lihat, lebih pada penganiayaan biasa, ada juga yang kriminal, jadul. Nah di beberapa tempat juga, di jakbar ada kasus pengeroyokan yang korbannya enggak jauh saling mengenal, terserah, rentetan muda, kebetulan juga korban agama,” kata Tito di Mapolda Metro Jaya, Senin 12 Februari 2018

Pertanyaan yang muncul adalah sudahkah rasa keadilan itu hilang dari dalam hati kepolisian. Kenapa begitu bencinya kepada para ulama dan para aktivis. Seakan-akan nyawa mereka tidak ada artinya sama sekali.

Padahal sejarah mengatakan bahwa kemerdekaan negara ini banyak menghilangkan darah orang Islam. Namun mereka yang hari ini sedang teraniaya malah ditindas sekalian justru oleh mereka yang seharusnya menjadi pelindungnya.

Kesimpulan sekaligus sebagai solusinya, ketidakadilan yang dilakukan oleh aparat kepolisian justru akan menambah panas suasana negeri ini. Maka bersikap adilah terhadap semua kasus jangan tebang pilih. Tegakkan hukum yang berlaku di negara ini jangan justru menjadi pelanggar hukum yang pertama.

(jp)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: