Sketsa News
Home Berita, Berita Terkini, Citizen-Jurnalism, News Prabowo Dan Tragedi 98’

Prabowo Dan Tragedi 98’

PRABOWO DAN TRAGEDI 98’

Oleh : Abdul Kurniadi

Sketsanews.com – Persis 20 tahun yang lalu tergores sejarah penting di negeri ini, sebagian menyebutnya sebagai “Tragedi 98”. Seiring dengan sirnanya kepercayaan rakyat terhadap penguasa saat itu, tuntutan demi tuntutan, alasan demi alasan, demo demi demo, kemelut demi kemelut pun terus bermunculan hingga jutaan mahasiswa bersama masyarakat bergerak dengan tuntutan mengerucut menjadi satu teriakan “REFORMASI TOTAL” yang meruntuhkan rezim orde baru. Kekacauan terjadi dimana-mana, pemerintahan nyaris lumpuh total dan tak berfungsi, namun ternyata pergulatan bukan hanya terjadi antara masyarakat dan penguasa, tapi juga terjadi diantara kalangan elit penguasa itu sendiri khususnya elit militer dengan munculnya isu pengerahan pasukan dan rencana kudeta. Pergulatan ini pun diakhiri dengan pemberhentian “Prabowo Subianto” dari dinas kemiliteran atas kesalahan melakukan tindakan penculikan terhadap aktivis 98 dan menggerakkan pasukan diluar komando Panglima ABRI saat itu sekaligus sebagai jawaban dari isu yang berkembang.

Selesaikah dan terjawabkah isu itu…???
…ternyata “TIDAK”. Terbukti dengan maraknya kembali isu ini saat menjelang pilpres 2014 yang lalu bahkan hingga saat ini, termasuk isu pelanggaran HAM. Benarkah semua itu…?? berikut sekilas cerita pengalaman dan pandangan saya terkait tragedi 98 dan Prabowo…
Terus terang , sejak tahun 98′ saya anti dan gak suka dengan orang yang bernama “Prabowo Subianto”, terlebih lagi secara “gak sengaja” dan karena tak punya KTM, mau gak mau saya “terpaksa” menjadi salah satu koordinator aksi mahasiswa di Medan yang kebetulan pada tanggal 16 Mei 98’ berhasil mencapai gedung DPRD melalui “aksi damai”, walaupun aksinya tidak terlalu damai dengan adanya satu orang korban jiwa dari pihak militer akibat tertembak rekannya sendiri. Insiden itu terjadi saat tarik-menarik kamera di pintu gerbang gedung DPRD dengan orang yang disinyalir sebagai “intel” yang langsung diamankan oleh aparat (PM). Keributan itu ternyata memicu reaksi petugas Dakhura yang sepontan mengarahkan moncong senjatanya persis kearah saya dan teman2 yg lagi berebut kamera, tiba2 senjata itu meletus “DUARR” tepat mengenai tengkuk kanan seorang prajurit yang sedang berlari persis didepan mata saya (tidak lebih dari 1 meter dari tempat saya berdiri), refleks kamera saya lepaskan dan berteriak “tiarap” sambil terperangah melihat seorang prajurit yang roboh seketika itu juga dengan posisi berlari yg tak berubah (bagaikan kaku) hingga jatuh ke tanah. Melihat temannya roboh, petugas lainnya semakin terpicu dan mengeluarkan tembakan beberapa kali, beruntung saya tidak tertembak, tapi ternyata… beberapa teman peserta aksi yang berada dibelakang terkena tembakan peluru karet, walau tidak sampai merenggut jiwa namun sempat membuat sebagaian besar peserta aksi histeris, panik, marah bahkan ada yang pingsan. Kesokan harinya, berita di media cetak berkata lain, korban meninggal (petugas) diduga karena terkena lemparan batu, sesuatu hal yang tidak benar, menyudutkan mahasiswa, tidak masuk akal dan menambah amarah, persis dengan berita2 sebelumnya yang di sinyalir adanya “BOM ASAP” dari Amerika dan Jerman yang digunakan oleh mahasiswa, padahal itu tak lain adalah ramuan dari cairan “amonia” expired yang kami gunakan saat bentrokan dengan aparat akibat pengepungan yang mereka lakukan di sekitar kampus.

Ternyata setelah 20 Tahun, gaya media masih gak jauh berbeda…

Mungkin banyak yang gak tau kalau kerusuhan di Medan lebih dulu terjadi dari kota2 lain di Indonesia pada peristiwa 98′ dan Itu terjadi sebelum pristiwa “Trisakti”, Kerusuhan diawali pada tanggal 4 Mei dengan isu pelecehan seksual oleh oknum aparat terhadap mahasiswa IKIP yang akhirnya merambat menjadi kerusuhan massal dan puncaknya tanggal 6 Mei dini hari dimana tragedi kelam 98’ bermula, yang kemudian hampir semua surat kabar menerbitkan berita dengan judul “Medan Mendunia”, “Medan Mencekam”, “Medan Lumpuh Total”, dan sebagainya.
Di penghujung tahun 98′, Prabowo ditetapkan bersalah atas tindakannya melakukan penculikan beberapa aktivis dan diberhentikan dari militer, dibarengi dengan isu yang berkembang bahwa saat peristiwa 98′ Prabowo juga berupaya melakukan kudeta. Mendengar itu, saya yang sudah anti karena mendengar beberapa isu miring mengenai Prabowo pun ikut merasa gembira, dan saya yakin begitu juga dengan teman-teman seperjuangan lainnya. Sejak saat itu melekat dibenak saya bahwa Prabowo juga merupakan seorang (maaf) “pengkhianat”.
Tahun 2009, munculnya Prabowo di kancah politik Indonesia yang mencalonkan diri sebagai Cawapres berpasangan dengan Megawati jelas saja membuat saya jengah, namun karena saya tidak suka “politik” ala politikus Indonesia, saya gak ambil pusing dan lebih baik EGPCC…
Di pertengahan 2014, tepatnya menjelang pilpres yang lalu, munculnya kembali sosok Prabowo dikancah politik dan bahkan mencalonkan diri sebagai Capres membuat saya semakin jengah dan gak habis pikir, kok bisa-bisanya…??? Tak lama kemudian muncullah sosok Jokowi yang saat itu menjabat sebagai Guberbur DKI Jakarta maju sebagai Capres tandingan. Hal ini justru membuat saya semakin sulit menilai mana yang lebih baik, mengapa?

Prinsip saya, menilai orang bukan dari terlihat baik atau tidaknya seseorang, namun wajar atau tidak perbuatannya dan apa alasannya, karena saya yakin bahwa semua penipu pasti menunjukkan kebaikannya untuk menutupi rencana jahatnya, yang membedakannya adalah “kewajaran”

Saat Jokowi maju menjadi capres, hati kecil saya mengatakan ada yang tidak wajar, dasar pemikirannya simpel… kita semua tau bahwa Prabowo memiliki andil besar dalam mensuksekan Jokowi menjadi Gubernur DKI Jakarta, dan jika orang yang membesarkannya saja sanggup ditinggalkan (baca: dikhianati), apalah bedanya Jokowi dengan Prabowo…??? dan apalah arti rakyat biasa baginya…??? terlebih lagi adanya perjanjian “Batu Tulis” antara kubu Prabowo dan Megawati yang teringkari. Di benak saya muncul pertanyaan, mengapa negara ini hanya memiliki sosok “mereka” yang berpotensi saling menyakiti untuk menjadi RI 1…??? dan lucunya lagi, di negeri yang Pancasila dan Beradab ini, cara politik seperti ini masih dianggap wajar dan bahkan dianggap sebagai keberhasilan dan prestasi yang membanggakan.

Suatu kewajaran yang tidak wajar…

Seiring semakin ramainya perang opini dan panasnya temperatur politik, saya menilai semakin ada yang tidak wajar terjadi… dan berhubung saya tidak suka Politik, saya pun tak peduli siapa yang akan menjadi petinggi di republik ini, bahkan saat ada teman yang membujuk saya untuk memilih Prabowo, saya dengan tegas menolaknya bahkan saya mengatakan “kamu cuma ikut-ikutan dari orang2 yang kamu ikuti tanpa tau siapa itu Prabowo sebenarnya”… namun… ada lagi ketidak wajaran lain, mengapa Desmon, Haryanto Taslam (almarhum), dan Pius berdiri bersama Prabowo? bukankah mereka aktivis yang diculik oleh Prabowo? Apakah mereka sosok yang “terbeli”? Benarkah Prabowo seorang pengkhianat seperti apa yang telah dikatakan orang-orang? Apapun ceritanya saya harus cari tau…..!!!
Mulailah saya berselancar bersama om google…. berita2, artikel2, dan segala sumber yg berkaitan dengan Prabowo saya baca, bolak-balik hingga… pada buku “PERJALANAN SEORANG PRAJURIT PARA KOMANDO” karangan LetJen TNI Shintong Panjaitan, persis di halam 23 alinea terakhir dan halaman 24 alinea pertama, saya terpana dan berulang kali membacanya… kalimatnya begini….

“Di jalan sempit yang hanya selebar enam meter itu, Kopassus diminta mundur oleh Paspampres. Namun, ternyata mereka hanya mau pindah kalau ada perintah dari komandannya, karena mereka mendapat perintah mengamankan presiden. Disamping itu, personel Kopassus yang berjaga-jaga di depan kediaman BJ. Habibie di Patra Jasa Kuningan, dibekali peluru tajam. Sementara personel Paspampres di bawah komando Mayjen TNI Endriartono Sutarto hanya berbekal peluru hampa.”

“… Kemudian Edriatono Sutarto memberitahukan kepada Shintong bahwa pasukannya juga memerlukan peluru tajam.”
Selain itu, pada buku “Detik-detik yang menentukan” karangan B.J. Habibie, halaman 82 – 83 menuliskan,
“sekitar puku 09, Wiranto melaporkan bahwa pasukan Kostrad dari luar Jakarta bergerak menuju jakarta dan ada konsentrasi pasukan di kediaman BJ. Habibie di Kuningan dan Istana Merdeka.”
… dan Wiranto juga telah mengumpulkan seluruh keluarga presiden di satu tempat di Wisma Negara untuk mendapatkan pengawalan oleh Paspampres.
Mungkin pertanyaan ini bisa anda jawab sendiri,

“Benarkah prosedur paspampres menggunakan peluru hampa apalagi dalam kondisi nasional yang masih huru-hara..?? dibawah komando siapakah Paspampres saat itu…?? Mengapa Pangab tidak memberi bekal peluru tajam kepada Paspampres sementara seluruh keluarga presiden dikumpulkan di satu tempat dan diamankan oleh Paspampres…???”

Pertanyaan selanjutnya, mengapa seorang pangab tidak memerintahkan pasukan Kopassus yang berada di kediaman BJ. Habibie maupun Istana untuk mundur, padahal Letjen Shintong pada kenyataannya bisa memerintahkan pasukan Kopassus untuk mundur melalui Brigjen Gassing…????

Saya menyimpulkan dengan membayangkan kondisi saat itu, sehebat apapun Paspampres dengan hanya berbekal peluru hampa jika dihajar massa pasti akan konyol…

Lantas, siapa sebenarnya yang berencana melakukan kudeta…???
Dari fakta-fakta ini saja ada beberapa ketidak-wajaran yang terjadi saat itu,
1. Paspampres yang hanya dibekali peluru hampa apalagi kondisi nasional sedang tidak normal.
2. Pangab tidak memerintahkan Kopassus untuk mundur tapi malah melaporkan ke Presiden.
3. Pangab menyebutnya dengan istilah pasukan “liar”, sementara atribut pasukan kopassus saat itu lengkap sehingga gampang dikenali oleh Letjen Shintong Panjaitan dan bisa dimintakan mundur melalui Brigjen Gassing.
4. Pangab mengumpulkan seluruh keluarga presiden pada satu tempat bahkan yg berada di Bandung pun di jemput menggunakan helikopter untuk mendapatkan pengamanan oleh Paspampres yang hanya dibekali peluru hampa.
Dengan demikian, sebelum adanya penjelasan mengenai hal ini dari semua pihak yang terlibat saat itu, saya berkesimpulan bahwa predikat buruk dan adanya rencana kudeta yang selama ini disematkan kepada Prabowo menjadi “TERBANTAHKAN”, dan ini mirip seperti gaya media diatas, saya justru curiga memang ada orang lain yang berencana memanfaatkan kondisi saat itu untuk menjadi “pahlawan kesiangan” demi menjadi RI-1 seperti yang dikatakan oleh Prabowo, namun gagal karena adanya pasukan Kopassus yang menjaga keamanan Presiden… benarkah demikian…?? Wallahu a’lam
Tapi… paling tidak kita harus belajar kritis dalam menganalisa segala permasalahan yang terjadi dan bukan berdasarkan “SUKA atau TIDAK SUKA” seperti apa yang pernah saya alami selama 16 tahun…

 

(in)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: