Sketsa News
Home Berita, Berita Terkini, News Pusat Jangan Gaduh, Sumbar Tak Punya Bibit Radikal

Pusat Jangan Gaduh, Sumbar Tak Punya Bibit Radikal

FB. Buya Gusrizal Gazahar

Sketsanews.com – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Barat (Sumbar) turut mengomentari hasil penelitian Badan Intelijen Negara (BIN). Yakni, soal fanatisme agama yang diklaim menyasar sekitar 39 persen mahasiswa.

Ketua MUI Sumbar, Gusrizal Gazahar beranggapan, hasil penelitian seperti itu justru menimbulkan kegaduhan umat. Jika memang ditemukan indikasi seperti itu, jangan lantas langsung dilempar luas pada masyarakat. Dengan kata lain, pemerintah harus melokalisir dan tidak mengeneralisir.

“Isu itu sama dengan tuduhan. Seolah-olah semua umat Islam radikal,” terang Buya Gusrizal saat dihubungi JawaPos.com, Selasa (1/5).

Di Sumbar, terang Gusrizal, tidak ditemukan bibit-bibit radikalisme dalam keagamaan. Sebab, semua persoalan diselesaikan dengan cara musyawarah. Apapun dan sekeras apapun mencuatnya persoalan tersebut. Itulah karakter masyarakat Sumbar.

“Kami meminta Pusat jangan terlalu gaduh dengan isu-isu tersebut. Sebab, pernyataan-pernyataan yang memancing kegaduhan umat di tingkat pusat, jelas membias ke daerah,” terang dosen ushul fiqih itu.

Jika persoalan dan isu-isu itu terus “dirawat”, sama saja mengantarkan Bangsa Indonesia kejurang masalah yang dikemudian hari tidak bisa diperbaiki. Dengan begitu, pihaknya meminta, pemerintah di tingkat pusat menimalisir pernyataan yang terindikasi konflik.

“Tidak saja soal paham radikal. Ada juga isu politisi masjid. Masjid itu urusan ulama dan kami yang mengurus. Kami punya batasan dalam pembicaraan bagaimana Islam itu sendiri. Agama Islam komprehensif bicara apa saja. Sekali lagi, ulama tidak nyaman dengan isu-isu yang santer disebarkan soal radikal,” tegasnya.

Pemahaman keagamaan Islam dari berbagai mazhab, seyogyanya dapat disikapi dengan bijaksana. Anehnya, perbedaan yang masih ditolerir dalam ajaran Islam, justru menimbulkan reaksi keras. Seperti halnya pelarangan cadar di salah satu kampus islam di Sumbar.

“Syiah yang kami ulama Sumbar sepakat menolaknya, justru kian merajalela. Pemahaman sekuler dan liberal diakomodir. Kalau begini, ujung-ujungnya simbol keislaman akan dikategorikan radikal. Termasuk sorban yang saya kenakan,” tegas Gusrizal.

Lagi-lagi, lulusan Al-Azhar Mesir itu meminta, pemerintah Pusat memperhatikan isu-isu yang dapat memancing kegaduhan. Sebab, ranah tersebut bersinggungan langsung dengan umat Islam khususnya.

“Jangan selalu reaksi umat yang dilabel radikal. Tingkat kesabaran umat berbeda-beda. Jika ingin menyelamatkan generasi Bangsa, mari saling menghargai dan memahami persoalan ini,” imbau Buya Gusrizal.

(rcc/JPC/Jawapos)

 

(in)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: