Sketsanews.com SOLO — Kesadaran tentang kesehatan rakyat hari ini adalah tindakan kuratif di rumah sakit. Jumlah pasien di rumah sakit tiap hari semakin banyak. Rumah sakit swasta bahkan kian banyak seiring gurihnya bisnis kesehatan rakyat.

Jaminan kesehatan sebagai wujud kehadiran negara menjamin kesehatan rakyat dari tahun ke tahun semakin bertambah parah. Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan sebagai lembaga pengelola asuransi kesehatan nasional tiap tahun melaporkan defisit anggaran dan butuh suntikan dana segar pemerintah.

Puncaknya adalah membuat kebijakan yang tidak populer di kalangan masyarakat, yaitu menaikkan premi BPJS 100%. Anggaran BPJS yang boros hingga jebol triliunan rupiah harus diaudit mengingat tingginya kecurigaan publik terhadap BPJS dengan terbongkarnya manipulasi klaim biaya di salah satu rumah sakit di Jawa Timur.

Dalam era demokrasi, partisipasi warga sebagai subjek pembangunan adalah mutlak. Partisipasi tentu tidak dimaknai sempit sebatas ikut “gotong royong” yang lebih mirip pemaksaan. Partisipasi rakyat mungkin terwujud jika masyarakat diberi peran dan ruang dalam bidang kesehatan.

Cara pandang kesehatan adalah masalah kuratif dan hanya dengan datang ke rumah sakitlah penyakit akan sembuh dan sehat kembali perlu dibongkar. Cara pandang tersebut tidak muncul tiba-tiba, tetapi sebagai akibat promosi kesehatan dan upaya-upaya preventif yang masih memosisikan rumah sakit sebagai pelaku utama.

Di tengah beban rakyat dengan naiknya iuran BPJS dan beratnya beban pemerintah menanggung defisit BPJS, ada gagasan menarik tentang rumah sakita tanpa dinding yang diinisiasi Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo.

Konsep rumah sakit tanpa dinding mengandung harapan besar dapat mendorong partisipasi masyarakat dalam bidang kesehatan. Gagasan ini menjadi nyaris tanpa gereget jika hanya mengandalkan aparatur kesehatan sebagai subjek dan masyarakat sebagai objek.

Paradigma demikian akan terjebak pada pendekatan yang sama: kuratif, meskipun mengganti istilah menjadi “jemput bola” oleh tenaga medis terhadap pasien. Rumah sakit formal tetap sebagai kendali utama isu kesehatan rakyat lengkap dengan obat-obatan yang disiapkan untuk pasien sebagai objek kesehatan.

Menggugah Kesadaran Rakyat

Rumah sakit tanpa dinding yang digulirkan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah butuh pengembangan lebih lanjut untuk menggugah kesadaran kesehatan rakyat dengan pendekatan budaya dan kearifan lokal. Bukan pekerjaan mudah membalik posisi rakyat menjadi subjek kesehatan. Ini menyangkut perilaku dan berkaitan erat dengan kebudayaan. Perlu pendekatan kebudayaan dalam proses penyadaran kesehatan rakyat.

Kekayaan alam Jawa Tengah ihwal tanaman obat perlu diangkat kembali sebagai kebudayaan lokal. Jauh sebelum penyakit jantung, stroke, ginjal, kanker, dan lain-lain menyerang manusia, banyak pengetahuan tentang tanaman obat yang bisa membantu mencegah bahkan menyembuhkan secara murah dan mudah.

Pelaku kebudayaan dalam bidang kesehatan yang hidup dalam masyarakat, misalnya tukang pijat urut, ahli bekam, dan ahli tusuk jarum perlu diberi ruang agar peran mereka dapat dimaksimalkan dalam menggugah kesadaran kolektif ihwal kesehatan dan meningkatkan usia harapan hidup.

Warisan budaya dalam bidang kesehatan selama ini justru ditinggalkan dengan stigma sebagai metode pengobatan kuno, alternatif, nonmedis, hingga nonilmiah. Potensinya justru bisa digandeng dalam mendorong upaya preventif tanpa harus terpaku pada rumah sakit formal sebagai pusat gerakan hidup sehat.

Pengobatan dengan metode pijat, tusuk jarum, dan bekam harus dikembangkan agar bisa bersinergi dan tidak bertentangan dengan pengobatan modern. Rumah sakit tanpa dinding adalah konsep, bukan layaknya bangunan gedung rumah sakit.

Rumah sakit tanpa dinding menamamkan pemahaman bahwa kunci sehat dan panjang umur berada pada diri kita sendiri. Setiap orang menjadi dokter atas dirinya sendiri yang berkuasa penuh atas tubuhnya dan memiliki pilihan bebas terhadap metode pengobatan yang diyakini.

Sejarah membuktikan sebagian besar ilmu kesehatan adalah pengembangan dari seni (keterampilan dan pengetahuan) yang memiliki hubungan erat dengan keyakinan agama dan filsafat dari kebudayaan lokal.

Rakyat sebagai Subjek

Seorang dukun akan menggunakan tanaman obat dan berdoa untuk kesembuhan. Filsuf dan dokter kuno akan mengeluarkan darah menurut teori humoralisme. Pada abad-abad terakhir, sejak munculnya ilmu pengetahuan modern, kedokteran mengombinasikan seni dan ilmu pengetahuan (dasar dan terapan) di bawah payung ilmu kedokteran.

Pengetahuan akan pengobatan rakyat kini mulai menghilang di masyarakat karena dianggap tidak praktis dalam gaya hidup modern, apalagi dengan semakin sulitnya menemukan tumbuh-tumbuhan obat. Dalam kondisi demikian, Dewan Kesehatan Rakyat Jawa Tengah memandang perlu mendukung program Gubernur Jawa Tegah tentang rumah sakit tanpa dinding.

Yang dibutuhkan adalah pendekatan budaya dan kearifan lokal untuk membangun kesadaran masyarakat bahwa lingkungan sosial kita adalah rumah sakit tanpa dinding. Sehat dan sakit merupakan dua sisi mata uang yang saling berimpitan.

Pengetahuan tentang cara hidup sehat dan cara mengatasi penyakit menjadi kebutuhan mendesak untuk dihadirkan dalam kehidupan masyarakat, baik pengobatan pramodern maupun modern atau medis maupun nonmedis.

Keduanya berperan penting dalam masyarakat untuk menciptakan perilaku hidup sehat dan berumur panjang. Mmenjadikan rakyat sebagai subjek kesehatan berarti ”setiap orang adalah dokter” dan ”menjadi dokter”, bahkan sekaligus pasien di rumah sakit tanpa dinding.

Pengetahuan kesehatan yang modern maupun pramodern dapat dikombinasikan menjadi wacana di tengah masyarakat melalui ketersediaan bank data yang dapat diakses secara mudah oleh publik. Dukungan tekhnologi generasi 4.0 dapat dengan mudah diberdayakan menjadi satu aplikasi.

Bank data itu bisa dilengkapi dengan tenaga ahli (spesialis) sebagai rujukan konsultasi berupa lokasi (alamat) layanan kesehatan di Jawa Tengah dan pilihan metode pengobatan yang dapat dipilih secara merdeka.

Momentum Hari Kesehatan Rakyat 12 November 2019 dapat menjadi titik awal untuk membenahi aneka masalah kesehatan agar rakyat sehat dan negara kuat.

 2019
Prijo Wasono/Istimewa

Sumber : Solopos

2019-11-26 03:00:57

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: