Sketsa News
Home Berita, Berita Terkini, Ekonomi & Bisnis, News Rupiah Melemah 41 Poin Menjadi 14.618

Rupiah Melemah 41 Poin Menjadi 14.618

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menyampaikan hasil Rapat Dewan Gubernur di kantor pusat BI, Jakarta, Rabu (15/8/2018). BI memutuskan menaikkan suku bunga acuan BI 7-days repo rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,5 persen guna mempertahankan daya tarik pasar keuangan domestik dan mengendalikan defisit transaksi berjalan dalam batas yang aman. (ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan)
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menyampaikan hasil Rapat Dewan Gubernur di kantor pusat BI, Jakarta, Rabu (15/8/2018). BI memutuskan menaikkan suku bunga acuan BI 7-days repo rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,5 persen guna mempertahankan daya tarik pasar keuangan domestik dan mengendalikan defisit transaksi berjalan dalam batas yang aman. (ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan)

Sketsanews.com, Jakarta – Nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Kamis pagi, bergerak melemah 41 poin menjadi Rp14.618 dibanding posisi sebelumnya Rp14.577 per dolar AS.

“Pergerakan dolar AS yang kembali mengalami penguatan menghambat peluang rupiah untuk bertahan di zona positif,” kata analis senior CSA Research Institute Reza Priyambada di Jakarta, Kamis (16/8), seperti dikutip dari antaranews.

Pelaku pasar pun, lanjut Reza, diperkirakan akan kembali meningkatkan permintaannya pada dolar AS.

Ditambah lagi, dengan masih adanya sejumlah sentimen yang dianggap kurang baik maka dapat membuat rupiah kembali melemah meskipun telah dihadang oleh kenaikan suku bunga acuan.

“Adanya upaya pemerintah untuk menekan impor yang diikuti langkah bank sentral menaikkan suku bunga agar pelebaran defisit transaksi berjalan tidak mencapai 3 persen akan berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi ke depannya, sehingga dapat menghambat laju rupiah,” kata Reza.

Pernyataan berbagai pejabat terkait dengan penyebab pelemahan rupiah tampaknya tidak banyak direspons positif karena pelaku pasar menantikan kebijakan yang realistis untuk menghadapi gejolak pelemahan rupiah.

Bahkan langkah Bank Indonesia (BI) yang menaikan suku bunganya, juga belum direspons positif.

Berkaca dari sebelumnya di mana BI telah menaikan suku bunganya beberapa basis poin sejak era suku bunga rendah di level 4,75 persen, tampaknya tidak berpengaruh dimana rupiah masih melemah.

Di sisi lain, masih adanya kekhawatiran akan penyebaran resesi ekonomi Turki membuat permintaan terhadap dolar AS meningkat, sehingga rupiah pun ikut kembali melemah.

“Bahkan ada pula sebagian pelaku pasar yang memperkeruh suasana pasar di mana menyamakan ekonomi Indonesia akan menyamai Turki turut melemahnya laju rupiah,” ujar Reza. (wal)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: