Saling Klaim Kemenangan Jokowi dan Prabowo Buat Rupiah Tertekan

Foto: Pecahan uang kertas (seratus ribu rupiah) (Istimewa).

Foto: Pecahan uang kertas (seratus ribu rupiah) (Istimewa).

Sketsanews.com, Jakarta – Pemilihan presiden (Pilpres) 2019 boleh saja berakhir 17 April 2019 lalu. Namun, apa yang terjadi setelahnya tak kalah menyita perhatian.

Berdasarkan hasil hitung cepat yang dilakukan beberapa lembaga, pasangan Joko Widodo-Ma’ruf Amin berhasil memenangkan ‘pertandingan’ dengan persentase perolehan suara mencapai 54 hingga 55 persen.

Pasar uang pun menyambutnya positif kabar tersebut. ‘Jokowi effect’  yang tercipta paska hasil hitung cepat keluar berhasil membawa rupiah ke level Rp14.003 pada pembukaan pasar spot Kamis (18/3).

Penguatan tersebut membawa rupiah menjadi jawara Asia. Namun ‘Jokowi Effect’ tak berlangsung lama.

Pasalnya, di hari yang sama saat sejumlah lembaga survei mengeluarkan hasil hitung cepat mereka, Calon Presiden Prabowo Subianto juga mengklaim memenangkan Pilpres 2019.

Bahkan, ia langsung melakukan deklarasi kemenangan hingga tiga kali. Ia merasa tak terima dengan hasil hitung cepat sejumlah lembaga survei.

Pasalnya, menurut hasil perhitungan internal timnya, Prabowo beserta calon wakilnya Sandiaga Uno berhasil menang dengan perolehan suara hingga 62 persen. Klaim tersebut membuat penguatan rupiah pudar.

Pada penutupan perdagangan pasar spot Senin (22/4), rupiah terdepresiasi 0,24 persen ke angka Rp14.078 per dolar AS. Analis Monex Investindo Dini Nurhadi Yahsyi mengatakan rupiah memang melesat sehari pasca pilpres karena pelaku pasar melihat ketidakpastian politik di Indonesia sudah berakhir dengan kemenangan Jokowi yang sudah terlihat di pelupuk mata.

Kabar kemenangan tersebut menghilangkan keresahan pelaku pasar pada awal pekan lalu yang cenderung menunggu (wait and see) hasil pilpres. Namun keresahan muncul kembali setelah kubu Prabowo mendeklarasikan kemenangan.

Deklarasi tersebut telah menciptakan ketidakpastian di pasar. Akibat ketidakpastian tersebut, investor memilih untuk menunggu kejelasan hasil pilpres.

Aksi tunggu tersebut setidaknya masih tercermin pada depresiasi rupiah yang terjadi Senin (22/4). Ia mengakui depresiasi rupiah memang tak terlalu dalam.

Depresiasi juga tidak hanya dipicu sentimen dari ketidakpastian hasil pilpres tapi juga sentimen lain dari global, seperti perbaikan kondisi ekonomi AS. “Penguatan rupiah memang terkoreksi, namun depresiasinya tidak terlalu dalam. Itu artinya juga pasar menanti kepastian siapa yang memimpin Indonesia. Tapi saya lihat, rupiah masih cenderung stabil dan masih punya peluang untuk menguat,” jelas Dini.

Analis Asia Tradepoint Future Deddy Yusuf Siregar mengatakan investor yang ingin mengalirkan dana ke Indonesia tentu mempertimbangkan perang klaim kemenangan hasil pilpres antara kubu Jokowi dan Prabowo.

Menurut pengamatannya, sebagian besar pelaku pasar global masih menginginkan Jokowi sebagai presiden. Pasar masih ingin ada kelanjutan kebijakan serta restrukturisasi ekonomi tidak akan menyimpang seperti sebelumnya supaya mereka bisa merasa nyaman dalam mengalirkan dananya ke Indonesia.

Keinginan investor itu bisa saja kandas jika Jokowi digantikan calon lain. “Tapi meski ada sentimen mengenai klaim kemenangan, pasar masih menyambut positif hasil pilpres ini. Kondisi yang lebih kondusif memang wajar dirasakan pelaku pasar selepas satu negara melakukan pemilu,” ujar Deddy, seperti di kutip dari CNN.

Meski demikian, ia menganggap dampak pilpres terhadap pergerakan rupiah sudah habis di awal pekan ini. Menurut Deddy, perhatian pelaku pasar akan bergeser dan tertuju pada rilis Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia dan data Produk Domestik Bruto (PDB) AS Jumat mendatang.

“Jokowi effect sudah selesai, dan ini memang sudah sesuai ekspektasi sebelumnya,” terangnya.

Meski demikian, bukan berarti peluang pilpres dalam mendorong nilai tukar rupiah sudah sirna seutuhnya. Jika salah satu calon akhirnya mau menerima kekalahannya, pasar akan merespons positif dan rupiah kembali bisa menguat.

Analis Binaartha Sekuritas Muhammad Nafan Aji Gusta beranggapan pelaku pasar global akan memandang bahwa demokrasi di Indonesia sudah dewasa. Kedewasaan tersebut tercermin ketika Jokowi mengutus Menko Kemaritiman Luhut Panjaitan bertemu dengan Prabowo untuk mencairkan ketegangan yang tercipta akibat hasil sementara Pilpres.

Kedewasaan tersebut memberikan kesan bahwa kondisi politik di Indonesia cukup stabil walau sedikit diwarnai gejolak. Kestabilan tersebut akan dibaca positif oleh pasar sehingga bisa menciptakan kenyamanan investasi.

“Upaya cooling down ini penting sekali agar sentimen negatif dari politik berkurang. Fundamental ekonomi Indonesia sudah kuat, politik sudah cukup stabil. Yang penting, jangan sampai tensi-tensi politik ini berubah jadi konflik,” katanya.  (Air)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: