Sampah di Pantai Selatan Capai 4 Ton

KOTOR: Sampah berserakan di kawasan Pantai Parangtritis, Rabu (25/7). Gelombang tinggi juga menyebabkan sampah berceceran di kawasan pantai. (MEITIKA CANDRA LANTIVA/RADAR JOGJA)

KOTOR: Sampah berserakan di kawasan Pantai Parangtritis, Rabu (25/7). Gelombang tinggi juga menyebabkan sampah berceceran di kawasan pantai. (MEITIKA CANDRA LANTIVA/RADAR JOGJA)

Sketsanews.com, Bantul –  Tahun boleh berganti, tapi perilaku buang sampah sembarangan belum berubah. Salah satunya di kawasan pantai selatan Bantul. Pasca liburan tahun babru lalu tumpukan sampah mencapai empat ton.

Koordinator UPK Parangtritis Dinas Pariwisata Kabupaten Bantul Suranto mengatakan, tumpukan sampah tersebut berasal dari Pantai Parang Endog hingga Pantai Parangkusumo. Lonjakan volume sampah mencapai empat kali lipat dibandingkan hari-hari biasa. Sampah tak hanya dari laut. Tumpukan sampah juga berasal dari pengunjung pantai yang membuang sampah sembarangan. “Sampah didominasi oleh sampah plastik. Seperti, botol minum, bungkus makanan, alas plastik, sisa kembang api, dan lain-lain,” katanya saat bersih-bersih sampah, Rabu (2/1).

Dia mengatakan untuk membersihkan sampah-sampah tersebut, dierjunkan 22 personil kebersihan.”Sampah yang berserakan di pantai kali ini cukup banyak. Bahkan hanya baru membersihkan sebagian kecil saja sampah sudah berkali-kali diangkut,” ungkap Suranto.

Walau volume sampah mengalami lonjakan hingga empat kali lipat, dibandingkan dengan volume sampah pada tahun-tahun sebelumnya justru mengalami penurunan. Menurut dia penurunan volume sampah karena jumlah kunjungan akhir tahun menurun.

”Mungkin pengunjung berkurang karena adanya imbauan dari BMKG. Agar berhati-hati dan waspada. Sebab gelombang laut sedang tinggi. Juga ada imbauan dari pihak kepolisian,” ungkap Suranto, dikutip dari radarjogja.

Salah seorang pengunjung pantai, Amanda Rahma, 23, asal Sleman mengatakan, kesadaran pengunjung terhadap kebersihan pantai masih kurang. Disisi lain, belum semua kawasan pesisir tersedia tong sampah. Artinya penyediaan tong sampah masih kurang. Sehingga tak sedikit pengunjung membuang sampah di tepian laut.

”Aktivitas pengunjung yang cenderung di pinggiran pantai, malas membuang sampah di tempat sampah yang sudah disediakan. Tak sedikit membawa makan dan malas membuang bungkusnya di tempat sampah,” ungkap Rahma. (As)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: