Sehari Ada 8 Ton Limbah Medis di Surabaya

Sketsanews.com – Beban limbah medis di Surabaya mencapai 8 ton sehari. Dalam setahun, totalnya 2.920 ton. Data tersebut dijadikan acuan Pemkot Surabaya untuk menyegerakan pembangunan sarana pengelolaan limbah bahan berbahaya dan beracun (B3).

Sehari Ada 8 Ton Limbah Medis di Surabaya 2019Ilustrasi kota Surabaya (Dite Surendra/Jawa Pos)

 

Rencana pembangunan sarana pengelolaan limbah B3 pernah diusulkan sebelumnya. Tapi, DPRD Surabaya mencoret anggaran Rp 60 miliar. Namun, saat APBD 2020 yang digedok pada November lalu, dewan menyetujuinya tanpa ada perdebatan panjang seperti tahun sebelumnya.

Bahkan, rombongan Komisi C DPRD Surabaya sudah berkunjung ke Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) pada Jumat (29/10). Salah satu tujuannya mempelajari pembangunan sarana pengolahan limbah.

Mereka menemukan fakta bahwa pembangunan sarana pengelolaan limbah B3 tidak semudah yang dibayangkan. ’’Pemkot perlu mengukur kembali kesiapan rencana pembangunannya,’’ kata Wakil Ketua Komisi C DPRD Surabaya Aning Rahmawati.

Dalam pertemuan itu, KLHK menerangkan bahwa izin pengelolaan limbah diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 101 Tahun 2014. Yang mengajukan haruslah badan usaha. Baik berupa koperasi, badan layanan usaha daerah (BLUD), maupun badan usaha milik daerah (BUMD).

Aning menyatakan, pemkot perlu membentuk BUMD atau BLUD tersebut lebih dulu. Menurut dia, dinas atau organisasi perangkat daerah (OPD) tidak diperkenankan mengelola limbah tersebut.

Lokasi pembangunan juga dipertanyakan. Dalam Peraturan Menteri LHK Nomor 56 Tahun 2015, lokasi pengelolaan limbah harus bebas banjir. Sementara itu, lokasi yang disediakan pemkot saat ini berada di pesisir utara Surabaya sehingga rawan terjadi banjir rob.

Pemkot sudah menyediakan lahan seluas 1,2 hektare untuk pembangunannya. Lokasinya 800 meter dari jalan raya dan berada di tengah area pertambakan warga. ’’Sementara itu, Surabaya adalah daerah yang rawan banjir Rob. Karena itu, perlu betul ada rekayasa teknologi terkait dengan pembangunan daerah instalasi,’’ kata alumnus Teknik Lingkungan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya itu.

Aning menegaskan bahwa dirinya tak bermaksud menghambat pembangunan tersebut. Dia justru mendorong agar realisasinya dipercepat. Sebab, dia tahu beban limbah B3 rumah sakit di Surabaya sangat tinggi. Itu belum ditambah beban B3 dari industri.

Pembangunannya juga perlu dipercepat karena upaya Pemprov Jatim untuk membangun instalasi serupa belum bisa terealisasi sampai sekarang. Pemprov bahkan sempat berpindah-pindah lahan karena ada penolakan dari warga sekitar.

Selain persoalan tempat, Aning mencatat adanya standardisasi angkutan B3. Kendaraan yang digunakan harus khusus. Menurut dia, persoalan tersebut tak bisa dikesampingkan mengingat kendaraan-kendaraan itu bakal melintas di jalanan kota dengan membawa limbah dari RS ke lokasi pengeloaan limbah.

Sementara itu, Wakil Wali Kota Surabaya Whisnu Sakti Buana menegaskan bahwa kementerian sudah mengizinkan pembangunan pengelolaan limbah B3 itu. Pemkot juga terus berkoordinasi dengan KLHK agar pembangunan tersebut tak membawa dampak lingkungan. ’’Sudah diizinkan. Cuma memang tempatnya terus dikaji,’’ kata politikus PDIP tersebut.

Whisnu menyatakan, proyek tersebut ditarget tuntas tahun depan. Akhir tahun ini, kajian pembangunannya diprediksi bisa tuntas. Dengan begitu, tahapan lelang bisa dilakukan. ’’Kali ini bukan multiyears. Langsung dikerjakan dalam setahun,’’ katanya.

Beban Limbah Medis Surabaya

Fasilitas | Jumlah | Beban limbah medis

Rumah sakit | 59 unit | 3.900 kg/hari

Puskesmas | 63 unit | 72,64 kg/hari

Klinik | 242 unit | 221,78 kg/hari

Apotek | 812 unit | 406 kg/hari

Laboratorium | 69 unit | 69,06 kg/hari

Praktik dokter | 3.025 unit | 1.512,5 kg/hari

Praktik bidan | 700 unit | 350 kg/hari

Jumlah | 4.970 unit | 6.531,98 kg/hari

Setelah ditambah asumsi fluktuasi 8.000 kg/hari

Prediksi beban limbah medis

2020 : 9.510 kg/hari

2025 : 12.289,62 kg/hari

2030 : 15.995 kg/hari

Sumber: Dinas Kesehatan Surabaya

Sumber : Jawapos

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: