Sejak Lahir, 60 Anak di Kota Malang Tertular HIV/AIDS

Kasi Pencegahan Pengendalian Penyakit Menular Dinas Kesehatan Kota Malang dr Bayu Tjahjawibawa. (Fisca Tanjung/JawaPos.com)

Kasi Pencegahan Pengendalian Penyakit Menular Dinas Kesehatan Kota Malang dr Bayu Tjahjawibawa. (Fisca Tanjung/JawaPos.com)

Sketsanews.com, Malang – Penyebaran virus HIV/AIDS di Kota Malang, Jawa Timur, merambah hingga anak-anak. Tercatat ada 60 anak yang mengidap HIV/AIDS sejak lahir periode 2015 hingga sekarang. Dilihat dari riwayatnya, virus yang merusak sistem kekebalan tubuh itu diturunkan sang ibu.

Kasi Pencegahan Pengendalian Penyakit Menular Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang dr Bayu Tjahjawibawa menerangkan, bila sang ibu sudah mengidap HIV/AIDS maka kemungkinan bayi tertular sebesar 90 persen. Sebagian anak pengidap HIV/AIDS diketahui sejak lahir.

Kemudian sebagian anak lagi diketahui mengidap HIV/AIDS saat sudah berumur. “Ada yang ketemu saat berusia dua, tiga tahun. Ada yang (diketahui mengidap HIV/AIDS) sejak lahir,” kata Bayu.

Mengacu pada fakta yang ada, diperlukan pemeriksaan sejak dini untuk mengetahui apakah ibu hamil mengidap HIV/AIDS. “Maka sejak hamil memang (harus) dicek agar anak (calon bayi) nggak terpapar HIV dan ditangani. Makanya ibu hamil wajib periksa tiga macam penyakit. Hepatitis, Sifilis, dan HIV,” terang Bayu.

Namun bukan perkara mudah untuk membujuk agar ibu hamil mau melakukan pemeriksaan tersebut. Ada ibu hamil yang bersedia untuk diperiksa terkait ketiga penyakit tersebut. Tapi ada pula ibu hamil yang menolak diperiksa karena merasa tidak terinfeksi virus.

“Ternyata di perjalanan tidak seperti itu. Itu yang menjadi tantangan. Tapi ada juga yang menerima untuk diperiksa karena yakin suci. Nanti kalau positif (mengidap HIV/AIDS), kami sampaikan, ditanya mulai kapan kena. Sebelum anak lahir, diperiksa dulu,” lanjutnya, seperti dilansir dari Jawapos.

Dengan diketahui sejak dini, penanganan dan pengobatan bisa dilakuka secepatnya. “Kalau ibunya positif, calon bayi 90 persen positif. Nah, nanti bisa di manajemen agar masuk yang 10 persen atau tidak tertular. Yakni dengan minum obat seumur hidup,” pungkas Bayu. (Is)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: