Sekarang Saya Lebih Plong, Lebih Enjoy, Lebih Percaya Diri

Sketsanews.com – Praveen Jordan dan Melati Daeva Oktavianti terlihat lebih cerah dan bahagia setelah menjadi juara dua kali beruntun di Denmark Open dan French Open 2019. Tak hanya lebih ceria, mereka juga lebih akrab dan memancarkan aura positif.

Mereka pantas sering menebar senyum. Menjadi kampiun turnamen Super 750 dalam dua pekan adalah prestasi yang sangat dahsyat dan sangat melegakan. Apalagi jika dihadapkan fakta bahwa sebelumnya, mereka tidak pernah naik ke podium tertinggi selama 1,5 tahun berpasangan.

Jawa Pos melakukan wawancara terpisah dengan Melati dan Praveen sebelum berangkat ke turnamen Super 750 lainnya, Fuzhou China Open 2019.

Wawancara bagian pertama dengan Melati ini, diselingi banyak canda. Juga berlangsung hangat karena Melati sering tersenyum lepas, memamerkan gingsulnya yang manis.

Waktu di final French Open kamu kabarnya sakit. Ada pengaruh kepada permainan?

Umumnya, tidak pengaruh ya, meski ada sih sedikit. Tenggorokan gatel. Tetapi tetap, kalau main di lapangan karena konsentrasi jadinya lupa aja.

Sakit itu sejak kapan tepatnya?

Sejak 16 besar Denmark Open 2019 waktu lawan Lu Kai/Chen Lu. Abis itu sakit, tapi ya coba aja terus. Paginya bahkan aku sempat demam, tenggorokan sakit, aku sempat mikir bisa main tidak ya. Lalu minum obat, makan, eh agak segeran. Dan ternyata bisa. Aku main nekat aja. Jordan juga tahu aku sakit, jadi dia nge-cover aku banget. Saling menyemangati.

Waktu final French Open, penyemangat Praveen kepadamu waktu internal itu viral sekali. Apa yang sebenarnya terjadi?

Itu kebetulan mainku kurang enak, banyak mati sendiri, set kedua sempat ketinggalan jauh. Cuma Jordan tetap menyemangati, coba aja dulu katanya. Ternyata benar menang. Pas pindah lapangan, dia tambah ngasih suport. Coba lagi dan ternyata memang bisa. Alhamdulilah.

Sejak tahun lalu, sebelum di Denmark Open, kalian sudah tembus lima final. Tahun ini saja, kalah di empat final. Bagaimana bisa mematahkan stigma runner-up?

Sebenarnya tak ada kepikiran mematahkan jadi miss runer-up. Tapi aku pikir ini semuanya proses. Tidak gampang jadi juara. Alhamdulilah sekarang sudah bisa tembus. Tapi maksudnya kan, mempertahankan gelar lebih sulit. Tapi kami usahakan semaksimal mungkin untuk bisa raih gelar lagi.

Sebelum berangkat ke tur Eropa kan sempat ada masalah di ganda campuran. Paling ramai soal Praveen yang menerima surat peringatan kedua. Apa itu jadi motivasi?

Ya, itu jadi salah satu juga. Maksudnya kami ingin buktikan, semuanya ingin buktikan bahwa kami bisa. Apalagi ditambah kasus kemarin, tambah memicu. Nggak ada yang tidak mungkin dan ternyata memang bisa. Aku sih nggak kena SP2. Kayaknya Ucok doang, hehehe…

Jadi juara untuk kali pertama BWF Tour di Denmark itu pasti spesial sekali. Apa yang dipikirkan waktu itu?

Itu aku benar-benar seneng banget. Lega. biasanya runner-up terus, akhirnya bisa tembus, lebih plong, lebih enjoy, lebih percaya diri. Jadi sudah pecah telur semuanya. Sama Zheng (Siwei)/Huang (Yaqiong) dan Wang (Yilyu)/Huang (Dongping) juga sudah kami kalahkan.

Artinya, kalian sekarang merasa sudah selevel dengan dua ganda Tiongkok itu?

Ya mungkin kalau dibilang selevel kalau dari prestasi, kami belum ada apa-apanya. Tapi maksudnya, yang bikin bangga itu kami bisa kalahkan mereka. Ternyata kami bisa. Sekarang caranya gimana kami bisa konsisten seperti itu.

Kalau kunci juara dua kali di Eropa itu apa sih?

Fokus, konsentrasi. Tapi paling utama itu komunikasi. Kerja sama di lapangan, saling mendukung. Kalau aku dan Jordan lebih seperti itu.

Sekarang kata Richard Mainaky (pelatih kepala ganda campuran, Red) kamu sudah lebih terbuka. Memang sebelumnya bagaimana?

Aku bukannya ngambek sih, tapi lebih ke takut ya ke Ucok. Dia di atas aku, senior di bulu tangkis. Mukanya Ucok serem, hahaha. Tapi sebenarnya mukanya aja yang seperti itu, tapi dia sebenarnya biasa aja. Mungkin sebelumnya pikiran aku seperti itu. Takut dia marah. Sekarang sudahlah, nekat aja. Apa yang aku omongkan ternyata dia welcome. Mungkin dia justru ingin aku seperti itu. Jadi lebih nyaman sekarang komunikasinya.

Apa perubahan mendasar yang kamu rasakan setelah juara di dua turnamen terakhir?

Kalau yang aku rasakan, kami jadi lebih mengisi. Kami lebih kompak, lebih rapat. Mislanya aku sudah mati langkah, Jordan bisa nutup. Saling cover. Terutama, Jordan. Dia sangat ngocover.

Kalau melihat dari posisi, penempatan, dan bola-bolamu di depan, memang terlihat ada peningkatan. Ada latihan khusus?

Sebenarnya tak terlalu ini banget, tidak ada. Kemarin latihannya lebih kuatkan defense aja. Kalau ada anggapan aku di depan lebih baik, ya karena aku lebih nekat saja. Seperti yang Jordan bilang, kalau di lapangan itu fifty-fifty. Jadi aku nekat saja. Fokus, konsen, dan ternyata aku bisa mengimbangi.

Latihan di defense kami lihat kamu memakai papan kayu. Ada pengaruhnya?

Itu untuk defense, ya ada pengaruhnya. Nomor satunya tetap nekat dan berani. Nggak takut dan nggak ragu. Maksudnya, dengan kemarin sudah kelihatan. Tapi musuh pasti lebih hati-hati. Dua China itu pasti akan mempelajari lagi. Karena itu kami harus lebih siap lagi, apapun perubahan dari mereka.

Di turnamen selanjutnya, Fuzhou China Open, ada target pribadi?

Targetnya yang pasti kami ingin juara lagi.

Richard Mainaky bilang kalian masih belum puas meski sudah juara, betul seperti itu?

Iya dong, kami tak puas. Ini baru dua kali. Masih jauh kalau dibanding Zheng/Huang. Jadi hasil ini kami belum puas, jangan sampai kami puas, sampai menuju Olimpiade.

Kalau melihat hasil juara dua kali di Eropa, lalu pasangan nomor satu dan dua dunia kalian kalahkan, ada optimisme bahwa di Olimpiade nanti bisa berprestasi?

Pasti ada rasa keyakinan. Wah kami bisa nih di Olimpiade. Ternyata tuh aku bisa dan tak ada yang tak mungkin. Jadi agak sedikit membuka bahwa Olimpiade kami juga bisa. Setidaknya medali lah. Tidak muluk-muluk dulu. Tapi memang jangan mikir ke sana dulu. Masih jauh.

Soal lain, waktu kalian juara, Melati sempat mengucapkan terima kasih ke Praveen secara khusus?

Dalam soal apa nih? Nggak ada lah hahaha..Kami kan sama-sama. Nggak gitu juga. Maksudnya, kami ini sama-sama saling membutuhkan. Tanpa diucapkan, kami sudah tahu masing-masing.

Waktu juara di Denmark, pelukannya erat banget

Pelukan itu wajar, baru pertama kali juara soalnya. Itu otomatis. Rasa bahagianya dan senangnya itu ya karena juara. Bukan dipeluknya. Ngaco ah, hahahaha..

Waktu di podium French Open sampai gandengan tangan gitu?

Hahahaha…Kayak mau nyebrang yahahahaha. Tapi yang pas di Denmark itu bayangkan saja, unggul 14-7, lalu berbalik tertinggal 14-18. Gimana Jordan nggak banting raket pas menang?

Rasanya bagaimana ketika itu? Sempat ingin nangis waktu juara di Denmark?

Iya, aku tak menyangka juga. Terharu banget. Ya dari kalah 14-18, aku sudah pasrah sebetulnya. Tapi tetap berusaha dan akhirnya menang.

▶ Sumber : Jawapos ◀

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: