Sepanjang 2017 Polri Berhasil Bekuk 172 Teroris

Kapolri Jenderal Tito Karnavian menjawab pertanyaan dalam jumpa pers di Mabes Polri, Jakarta, Rabu (28/12). Dalam kesempatan itu Kapolri menyampaikan kinerja dan capaian prestasi Kepolisian sepanjang tahun 2016 serta rencana strategis yang akan dilakukan di tahun-tahun mendatang. ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay/foc/16.

Kapolri Jenderal Tito Karnavian menjawab pertanyaan dalam jumpa pers di Mabes Polri, Jakarta, Rabu (28/12). Dalam kesempatan itu Kapolri menyampaikan kinerja dan capaian prestasi Kepolisian sepanjang tahun 2016 serta rencana strategis yang akan dilakukan di tahun-tahun mendatang. ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay/foc/16.

Sketsanews.com, Jakarta – Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri) Jenderal Tito Karnavian dalam memaparkan hasil kinerja Polri sepanjang tahun 2017 di Gedung Ruang Rupatama Mabes Polri, Tito mengungkapkan sepanjang 2017 Polri berhasil membekuk sebanyak 172 pelaku tindak pidana terorisme. Jumlah ini meningkat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

“Tahun lalu sebanyak 163 orang, dan tahun 2015 sebanyak 73 orang,” ungkap Tito di Gedung Rupatama Mabes Polri, Jakarta, Jumat (29/12).

Tito mengatakan, dari 172 pelaku terorisme itu, sebanyak 10 di antaranya sudah di vonis. Sedangkan 76 lainnya masih dalam proses persidangan, 68 masih dalam proses penyidikan, dan 16 pelaku lainnya tewas ditembak, dan dua tewas saat melancarkan aksi teror.

Sementara itu, Tito juga membeberkan bahwa selama tahun 2017, terdapat 18 personel yang menjadi korban aksi teror, empat di antaranya meninggal dunia, sementara 14 lainnya terluka.

“Di antaranya bom Kampung Melayu, ada tiga polisi (tewas), di Poso satu meninggal,” tandasnya, seperti dikutip dari fakta.news.

Selain itu, Tito juga menyebutkan, bahwa polisi paling banyak menjadi korban aksi teror pada 2011 yakni sebanyak 31 orang. Dari 31 anggota polisi yang jadi korban, tiga orang meninggal, 28 lainnya terluka. Pada 2016, lanjut Tito, tercatat ada 12 polisi yang jadi korban, satu di antaranya meninggal.

“Jadi trennya naik dibanding 2016, jumlah anggota Polri yang gugur dan terluka,” kata Tito.

Mantan Kepala Badan Nasional Penanggulanangan Terorisme ini menambahkan, bahwa meningkatnya penangkapan terhadap pelaku terorisme bisa terjadi karena dua kemungkinan. Pertama, lantaran perkara terorisme atau rencana serangan teror yang memang meningkat, atau lantaran upaya proaktif kepolisian.

“Saya lebih cenderung mengatakan bahwa banyaknya penangkapan ini karena langkah proaktif yang dilakukan polisi, lebih khusus Densus 88,” pungkas Tito. (Wis)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: