Sketsa News
 
Home Analisis, Berita, Berita Terkini, News, Politik Setelah Pembakaran “Bendera Tauhid” di Garut

Setelah Pembakaran “Bendera Tauhid” di Garut

Foto: Hakim Ghan

Sketsanews.com, Jakarta – Hari Santri Nasional yang mestinya menjadi seremoni tentang pentingnya “santrinisasi” masyarakat Indonesia diwarnai oleh aksi pembakaran bendera hitam bertulisan kalimat tauhid yang segera saja menjadi perdebatan. Perdebatan itu secara umum berangkat dari dua perspektif. Pertama, perspektif yang meyakini bahwa bendera yang dibakar adalah bendera tauhid, sehingga pembakarannya diyakini bukan hanya tidak pada tempatnya (tidak etis) tetapi juga bisa dianggap penistaan terhadap agama. Bahwa bendera yang dibakar adalah panjinya Rasulullah: ar-Rayah.

Kedua, perspektif yang meyakini bahwa bendera yang dibakar adalah bendera HTI yang kebetulan memang berwarna hitam dan berisikan lafaz tauhid. Pembakarannya, dengan demikian, diyakini sebagai ekspresi dukungan terhadap pemerintah yang telah membubarkan HTI sebagai organisasi. Kebetulan yang melakukan pembakaran adalah beberapa anggota Banser, sub-organisasi dari GP Ansor, yang terkenal sebagai garda depan NU, dan yang sering dihadap-hadapkan secara face to face entah itu dengan FPI dan bahkan HTI.

Sebetulnya, perdebatan tentang bendera tauhid, panji Rasulullah, dan bagaimana simbol itu digunakan oleh HTI, telah sejak lama berdengung. Walaupun HTI meraih minoritas suara muslim di Indonesia, narasi yang digunakan seringkali bersifat jamak, mengatasnamakan keseluruhan umat. Maka tak heran ketika terjadi pembakaran bendera, Ustaz Felix Siauw menyebut aksi itu sebagai akan memancing kemarahan umat karena tauhid itu milik umat. Tetapi, benarkah demikian?

Saya melakukan survei kecil yang boleh jadi tidak bisa dikategorikan ilmiah. Saya ingin mengetahui proporsi teman-teman saya di Instagram terkait kedua perspektif di atas. Hasilnya, 51% melihat bendera tersebut sebagai bendera HTI, sisa 49%-nya meyakini itu sebagai bendera Rasulullah. Sekali lagi riset ini hanya bisa dikategorikan sebagai pra-survei pemetaan kecenderungan yang bisa ditindaklanjuti dengan penelitian yang lebih serius. Tetapi, berangkat dari hasil ini saya melihat bagaimana diskursus bendera tauhid tersebut ternyata tidak “berkorelasi positif” dengan kuantitas organisasi pengusung.

Secara konseptual, NU punya anggota paling besar, punya anak-organisasi dan lembaga yang lebih banyak, dekat dengan power pengelola negara, sehingga mestinya lebih mampu menawarkan ortodoksi yang salah satu isinya: bendera hitam berisi lafaz tauhid itu, dalam konteks diskursus Islam di Indonesia, kebetulan dijadikan simbol bendera HTI. Tetapi, ternyata narasi itu sepertinya hanya lebih diyakini oleh orang-orang yang secara organisatoris dan struktural sadar bahwa dia adalah bagian dari NU dan aware soal dialektika dan perdebatan di seputar NU dan HTI. Sisa orang yang secara kultur NU tetapi tidak merasa bagian dari NU belum tentu meyakini hal serupa: atas nama konservatismenya boleh jadi merasa itu, bagaimanapun, terlepas dari fakta bahwa simbol tersebut digunakan HTI, tetaplah bendera Rasulullah (terlepas dari perdebatan soal bagaimana sebetulnya bendera Rasulullah).

Maka, dialektika perebutan ortodoksi dan otoritas agama sepertinya tidak setradisional dahulu, yang dirawat secara eksklusif oleh ulama dan dikultivasi melalui organisasi-organisasi Islam. Dengan kecenderungan muslim generasi milenial untuk lebih individualistis, tidak terlalu merasa sebagai bagian dari organisasi tertentu, sekaligus tidak merasa ormas-Islam oriented, membuat seseorang bahkan dapat menjadi “NU dan HTI” sekaligus. Dalam artian: secara kultur mirip dengan NU, secara ideologi berkesesuaian dengan HTI. Tanpa, sekali lagi, peduli terhadap NU dan HTI.

Secara keilmuan penelitian di atas menarik, tetapi secara implementasi di lapangan, situasi tersebut mungkin tidak akan selalu mulus berjalan. Kecuali memang muslim di Indonesia, melalui dinamika perdebatan yang tidak selesai-selesai ini, belajar untuk menjadi lebih besar ketimbang perspektifnya masing-masing, untuk dapat menghormati perdebatan sudut pandang tanpa merasa harus melakukan atraksi yang provokatif. Dalam hal ini bagi saya tindakan pembakaran bendera itu sebetulnya adalah tindakan yang tidak perlu, mengingat kondisi psikologis muslim di Indonesia belum siap menghadapi otokritik model begitu.

Tetapi, yang terjadi sudah terjadi. Polisi telah menangkap oknum pelaku. Selanjutnya biar hukum yang memproses. Semoga menjadi pelajaran bagi kita semua. Pelajaran untuk tetap eling dan tidak termakan euforia saat berada di kerumunan, terlepas dari di gerombolan mana kita berada. Juga, untuk tidak termakan eksploitasi politik atas kasus ini mengingat beberapa narasi yang dihubungkan dengan situasi ini mulai agak dipaksakan, dihubung-hubungkan, dengan panasnya proses menuju Pilpres 2019.

Misalnya, pembakaran bendera dijadikan point entry untuk kembali menyerang Banser, GP Ansor, dan NU. Penyerangannya, misalnya, melalui meme yang berkecenderungan berisi logical fallacy. Muncul tulisan-tulisan anonim yang disebarkan dari satu ke lain tempat perihal, misalnya, munculnya agama NU, ketidakmauan seseorang menyebut tauhid saat sekarat karena yang dituhankan hanya “NKRI Harga Mati”, hingga pada miskonsepsi di seputar pemahaman orang atas Islam Nusantara.

Menariknya, bukan persoalan like and dislike terhadap NU yang juga jadi sasaran. Sikap kita terhadap aksi ini juga dianggap dapat menunjukkan kecenderungan kita pada pilpres: memilih Jokowi ataukah Prabowo. Aksi ini dianggap sebagai alasan lain bahwa 2019 harus ganti presiden. Seolah-olah di tangan Prabowo, semua perdebatan di seputar agama akan selesai. Tetapi, lagi-lagi ini memperkuat asumsi bahwa Prabowo dekat dengan kalangan Islamis yang mengusung Islamisme dan post-Islamisme, sedangkan Jokowi yang dianggap pro-PKI dan anti-Islam, diusung oleh kalangan Islam kultural dengan NU sebagai garda depan.

Dan, setelah semua perdebatan ini selesai, dengan mempertimbangkan energi besar kita dalam memperdebatkan dan memperbincangkan agama hingga kadar overdosis di media sosial, adalah menarik untuk mempertanyakan: akankah generasi setelah kita akan beralih menjadi lebih sekuler karena kemuakan mereka melihat kita bertengkar pada hal-hal profan yang disangkut-pautkan dengan agama?

Irfan L. Sarhindi pengasuh Salamul Falah, alumnus University College London, associate researcher Akar Rumput Strategic Consulting

sumber : detik

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: