Sketsa News
Home Berita, Berita Terkini, Headlines, Hukum, kriminal, News Sidney Jones: Kelompok Teroris Khatibul Iman Di Bawah Pimpinan Abu Husna

Sidney Jones: Kelompok Teroris Khatibul Iman Di Bawah Pimpinan Abu Husna

Pengamat Institute for Policy Analysis of Conflict (IPAC) Sidney Jones

Sketsanews.com, Jakarta – Kepolisian kini memiliki payung hukum untuk menindak kelompok teroris di Indonesia. Kapolri Jenderal Pol Muhammad Tito Karnavian memastikan akan menindak semua jaringan teroris di Indonesia tanpa terkecuali.

Tindakan tegas dan terukur tak ayal akan dilakukan jika terduga teroris melakukan perlawanan dan melukai aparat. Hal itu menjadi pilihan mengingat keamanan Indonesia menjadi prioritas utama, apalagi menjelang dan selama penyelenggaraan Asian Games 2018.

Kepolisian kini sudah mengantongi peta jaringan seluruh kelompok teroris, mulai dari yang terkencil hingga kelompok terbesar di Tanah Air.

Terakhir, kelompok teroris yang berhasil ditangani Tim Densus 88 adalah Jamaah Ansharut Khilafah (JAK). Tiga orang terduga teroris dari kelompok ini meninggal dunia dalam baku tembak saat hendak diringkus Tim Densus 88.

Pengamat Teroris Al Chaidar mengatakan JAK bukanlah kelompok teroris baru. Mereka sudah ada sejak 2016 dan menamakan diri sebagai kelompok teroris JAK Nusantara yang kini masih dipimpin oleh Bahrunnaim selaku Khatibah Nusantara ISIS Indonesia.

JAK Nusantara terbagi menjadi dua wilayah besar yaitu JAK Masyriq (Timur) dan JAK Maghrib (Barat). Perlahan namun pasti jaringan teroris JAK di kedua wilayah itu membesar sejak semakin eksisnya jaringan Jamaah Ansharut Daullah (JAD) di Indonesia.

JAD menurut Al-Chaidar sudah mengambil alih kelompok teroris JAK Maghrib guna menambah kekuatan di wilayah Indonesia bagian barat. Basis kekuatannya ada di wilayah Surabaya Jawa Timur.

Pola Serangan

Melansir dari Kabar24, pola serangan JAK berbeda dengan kelompok JAD. Pelaku teror melakukan aksinya hanya belajar melalui media sosial. Mereka dikenal dengan sebutan lonewolf. Bahrunnaim yang merupakan pimpinan kelompok JAK itu lebih sering menyebarkan hegemoni ideologi melalui media sosial dan dunia maya.

Setelah JAK Maghrib “diakuisisi” Kelompok JAD, kelompok tersebut mulai melakukan serangan secara terstruktur atau direncanakan dengan matang.

JAD maupun JAK merupakan kelompok teroris yang berafiliasi dan mendukung seluruh aksi teror yang dilakukan ISIS Pusat di bawah pimpinan Abu Bakar Al Baghdadi.

Direktur Institute for Police Analysis of Conflict (IPAC) Sidney Jones berpandangan bahwa setiap aksi teror yang dilakukan kelompok teroris ISIS global akan dijadikan motivasi atau dorongan bagi kelompok pro ISIS di Indonesia untuk melakukan aksi teror.

Di sisi lain, Sidney memprediksi Khatibah Nusantara ISIS sudah tidak ada lagi di Indonesia karena banyak kabar yang menyebutkan Bahrunnaim dan Bahrunsyah sudah meninggal dunia, meskipun sampai saat ini belum ditemukan jasadnya.

Kemungkinan besar pengganti keduanya untuk menjadi Khatibah Nusantara ISIS adalah Abu Walid. Sosok ini masih hidup dan berkomunikasi aktif dengan ISIS di Marawi, Mindanao Filipina, sehingga dinilai potensial menjadi penerus Khatibah Nusantara.

Khatibah Nusantara merupakan sosok atau sel organisasi ISIS yang terpilih untuk jadi pimpinan di kawasan Asia Tenggara. Beberapa wilayah Asia Tenggara yang berhasil dipenetrasi ISIS di antaranya adalah Malaysia, Indonesia dan Filipina Selatan.

Sidney berpandangan jika ISIS berhasil melumpuhkan Indonesia yang merupakan negara Muslim terbesar di dunia, maka hal itu bisa dijadikan barometer keberhasilan ISIS di kawasan Asia Tenggara. Kemudian ISIS akan semakin mudah menguasai wilayah lain di Asia Tenggara.

Kelompok Pro-ISIS

Sidney mengungkapkan beberapa kelompok teroris pro-ISIS di antaranya adalah Jamaah Ansharut Daullah (JAD), Khatibul Iman, Al-Hawariyun, Negara Islam Indonesia (NII) pro-ISIS, Mujahidin Indonesia Timur (MIT), dan Mujahidin Indonesia Barat (MIB) serta masih banyak lagi kelompok kecil pro-ISIS di Indonesia.

Sampai saat ini, JAD merupakan kelompok teroris yang terbesar di Indonesia dan pola perekrutannya juga sudah jelas. Sementara itu, kelompok teroris Khatibul Iman di bawah pimpinan Abu Husna, bekas Jamaah Islamiyah (JI), masih memiliki pengikut di wilayah Solo dan Jambi.

Sementara itu, kelompk teroris Al-Hawariyun, pimpinannya bernama Abu Nusaibah sudah ditangkap pada November 2017, masih menjadi simpul rekrutment kelompok teroris di Jambi dan aktif melakukan kontak dengan Ust. Nandang yang kini berada di Suriah.

Kelompok teroris NII pro-ISIS juga masih ada pengikutnya di wilayah Bandung, Makassar dan Riau. Sedangkan kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT) yang kini dipimpin Ali Kalora juga masih aktif dan bisa hidup lagi untuk menebar teror di Indonesia.

Hal senada disampaikan Wakil Direktur Sekolah Kajian Stratejik dan Global dari Universitas Indonesia, Irjen (Purn) Benny Josua Mamoto. Ia menjelaskan bahwa para teroris sudah siap menderita dan tidak takut mati. Benny menjelaskan, teroris menganggap semakin berat penderitaan yang dialami maka akan semakin tinggi derajat mereka.

Kilang Minyak Ilegal dan Narkoba

Menurut Benny, alasan kelompok teroris pro-ISIS masih eksis karena ada sumber dana yang cukup kuat. Dana tersebut berasal dari kilang minyak ilegal dan merampok sejumlah bank di Suriah dan Irak.

Selain itu, ISIS yang sudah bersinergi dengan kelompok teroris Afghanistan bernama Taliban juga memiliki sumber dana yang kuat dari penjualan narkotika. Sebesar 80% pasokan heroin global berasal dari Afghanistan.

Benny berpandangan tidak tertutup kemungkinan kelompok teroris pro-ISIS seperti JAD mendapatkan pasokan dana dari sana untuk aksi amaliyah mereka di Indonesia.

Dia berharap PPATK mendeteksi seluruh aliran dana dari Timur Tengah, terutama dari Afghanistan yang masuk ke Indonesia. Dengan begitu, sumber pendanaan ISIS global kepada kelompok kecil pro-ISIS bisa diputus.

(Wis)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: