Sikap Universitas Brawijaya Terhadap Palestina

Rektor Universitas Brawijaya Prof. Dr. Ir Mohammad Bisri, M.S. (kiri) bersama Wakio Rektor IV Dr. Ir. Moch Sasmito Djati, MS. (kanan) Foto: Imam Muchlis/Sketsanews.com

Rektor Universitas Brawijaya Prof. Dr. Ir Mohammad Bisri, M.S. (kiri) bersama Wakio Rektor IV Dr. Ir. Moch Sasmito Djati, MS. (kanan) Foto: Imam Muchlis/Sketsanews.com

Sketsanews.com, Malang – Menaggapi pernyataan Presiden Amerika Serikat terkait Yerusalem sebagai ibukota Israel, Universitas Brawijaya Malang mengambil sikap tegas. Hal ini disampaikan dalam Siaran Pers Refleksi Akhir Tahun, Jumat (29/12) di Gedung Rektorat Universitas Brawijaya Malang.

Pada bidang internasional, Universitas Brawijaya (UB) mengemukakan pendapatnya terkait pernyataan presiden Amerika Serikat Donald Trump. UB sebagai salah satu perguruan tinggi negeri terbesar di Indonesia mendukung sikap pemerintah yaitu mengecam keras kebijakan Presiden Donald Trump,
Pernyataan sikap ini didasari pada UUD 1945 bahwa “kemerdekaan adalah hak segala bangsa dan penjajahan di atas dunia harus dihapuskan”. UB bersama pemerintah dan rakyat Indonesia tetap konsisten bersama rakyat Palestina dalam memperjuangkan kemerdekaan dan haknya.

“Yang menjadi prinsip dasar adalah ada didalam UUD 1945, karena kita adalah yang taat dengan UUD maka kita mengambil sikap seperti itu. Maka Universitas Brawijaya sebagai bagian dari bangsa Indonesia harus komitmen untuk membantu Palestina semaksimal mungkin”, kata rektor Universitas Brawijaya Prof. Dr. Ir. Mohammad Bisri kepada awak media.

Dukungan UB pada perjuangan bangsa Palestina bukan hanya dukungan moril saja. Mulai tahun 2018 UB akan memberikan dukungan kongkrit berupa ”Beasiswa Perdamaian” kepada Pegawai Negeri Sipil (PNS) negara Palestina untuk studi lanjut program Pasca Sarjana (S2 dan S3), pelatihan keterampilan kepada masyarakat Palestina baik yang berada di kamp pengungsian dan di wilayah Palestina seperti pelatihan pengembangan budidaya sapi dan kambing serta program “Dokter dan Perawat Mengabdi” untuk memberikan bantuan kesehatan dan pelatihan keterampilan medis bagi warga negara Palestina yang berada di kamp pengungsian di wilayah Yordania.

“Kita sudah mengirim staf ahli ke Palestina, dan semua bantuan yang kita lakukan adalah sifatnya non militer, dari sini kita ambil langkah untuk bantuan yang paling strategis adalah beasiswa dan pelatihan yang berhubungan dengan lingkungan yaitu bidang peternakan dan kesehatan”, ujar Bisri.

Terkait kemungkinan ancaman dari AS, maka Bisri mengaku tidak masalah, karena kita adalah bangsa yang satu mulai sekaranglah bangsa Indonesia punya kemandirian karena kita memiliki sumber yang luar biasa, kalau kita bisa mandiri maka bangsa kita akan menjadi bangsa yang semakin kuat.
(Im)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: