Tak Mau Ada Teror Di Labuan Bajo, Kapolda NTT Petakan Dan Awasi Jaringan Teroris

Sketsanews.com –  Para pelaku teror kerap memanfaatkan situasi dan wilayah yang dianggap aman dan nyaman.

Begitu yang disampaikan oleh Kapolda NTT Irjen Hamidin di Mapolda NTT, Jalan Soeharto, NTT, Rabu (4/12).

Menurut Hamidin, meski Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) tidak terkait langsung dengan organisasi-organisasi yang terkait dengan terorisme bahkan cenderung aman, dia tetap mengingatkan jajarannya untuk tetap waspada.

“Kita tidak boleh lengah bahwa radikalisme terorisme itu dia akan mencari tempat yang nyaman, yang menurut orang tidak mungkin terjadi,” kata Hamidin.

Mantan Direktur Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Teror (BNPT) ini memberi contoh kasus tepatnya pada 2002 saat pulau Dewata Bali diguncang bom berdaya ledak tinggi.

“Kan orang tak ada yang menyangka,” imbuhnya.

Apalagi, Labuhan Bajo oleh Presiden Joko Widodo telah ditetapkan sebagai salah satu destinasi pariwisata baru dengan kelas premium. Ini tidak menutup kemungkinan bisa dijadikan target aksi terorisme.

“Untuk itu kami senantiasa mempelajari jaring-jaring dan simpul terorisme yang ada di lingkungan di provinsi. Misalnya kita ke NTB selalu koordinasi dan kami juga mengawasi organisasi-organisasi teroris domestik yang ada,” jelasnya.

Lebih lanjut Hamidin menambahkan, kontra radikalisme yang dilakukan oleh jajaranya tidak hanya menyasar agama tertentu melainkan lintas agama juga semua lapisan elemen masyarakat, tidak hanya tokoh agama.

“Pemuda, termasuk pelajar mahasiswa. Ini yang kita lakukan saat ini,” tegasnya.

Sebagai Jenderal yang paham bagaimana menangani para pelaku teror, ia memakai tiga konsep dasar untuk program deradikalisasi. Pertama, menggandeng pemuka agama yang memang dapat diterima dengan baik oleh mereka yang terpapar radikalisme.

Kedua, penanganan terhadap narapidana teroris (Napiter) yang ada di dalam sel dengan metode insider, di mana insider ini adalah orang yang dulunya radikal namun sudah berhasil dibina melalukan program deradikalisasi.

“Kita gunakan dia untuk mederadikalisasi kelompoknya. Insider atau kita sebut predator untuk para radikal sendiri,” tuturnya.

Hamidin melanjutkan, untuk yang ketiga, yakni aparatur yang dulu pernah bertugas baik di Detesemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Mabes Polri maupun BNPT untuk turut serta memaksimalkan program deradikalisasi dengan memanfaatkan hubungan baik dengan Napiter yang pernah bersinggungan denganya.

“Hari ini kita masih tetap melakukan komunikasi intens pada mantan-mantan napiter ini,” tutup Hamidin. []

Sumber : rmol.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: