Sketsa News
Home Berita, Berita Terkini, kriminal, News Tawuran Pelajar, SMK Kendal vs SMK Semarang

Tawuran Pelajar, SMK Kendal vs SMK Semarang

Sketsanews.com, Kendal – Tawuran antar kelompok pelajar terjadi di Jalan Lingkar Kaliwungu, Kendal. Tawuran melibatkan  sedikitnya 40 siswa SMK Kendal dan Kota Semarang. Akibatnya, seorang siswa tewas dan seorang luka berat. Korban tewas diketahui bernama Wahyu Purnomo, 17, siswa SMK Harapan Mulya Kendal. Sedangkan satu korban luka berinisial SP, siswa SMK Adhi Yudya Karya Patean.

Informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Semarang menyebutkan, tawuran pelajar itu diduga bermula dari saling ejek di media sosial Facebook. Permusuhan di dunia maya itu berlanjut di dunia nyata. Pada Kamis (19/4/2018), kedua kelompok pelajar SMK dari Kendal dan dan Kota Semarang saling bertemu di Jalan lingkar Kaliwungu. Mereka pun terlibat tawuran sengit.

FAS mengaku, tidak mengetahui siswa yang terlibat tawuran dari mana saja. Sebab, itu merupakan bentuk solidaritas siswa SMK Kendal. “Gara-garanya SMK Kendal diejek di medsos, pasca permainan futsal. Lalu jadi tawuran sekarang ini,”  ujarnya.

FAS mengaku, saat tiba di lokasi, sudah terjadi tawuran. Ia bersama tiga temannya dari satu sekolah, yakni SP, HW dan TA ikut membantu dari kelompok Kendal. Tapi, satu temannya berinisial SP justru terluka parah akibat dikeroyok oleh siswa dari Semarang. Punggungnya terkena dua tusukan dan belasan luka akibat terkena gear. Kepala SP juga luka terkena sabetan parang hingga mendapat 16 jahitan.

“Ya, kami hanya solidaritas saja. Modal nekat dan keberanian. Tidak ada motif apa-apa, karena secara pribadi saya tidak ada permusuhan dengan siswa dari Semarang,” kata SP.

Kasatreskrim Polres Kendal, AKP Aris Munandar, mengatakan, pihaknya telah mengamankan 15 orang  yang diduga terlibat. Satu di antaranya diduga adalah pelaku pembunuhan Wahyu Purnomo.

“Kami masih melakukan pendalaman terkait keterlibatan beberapa orang yang telah kami amankan. Ada 15 siswa, semuanya dari Semarang,” ujarnya, Jumat (20/4/2018).

Ia mengaku belum mengetahui penyebab tawuran itu. Tapi dari keterangan saksi, tawuran tersebut telah direncanakan tempat dan waktunya. Sebab, dari saksi mata, sebelum terjadinya tawuran terdengar suara petasan di lokasi kejadian.

“Saya lihat ada siswa kumpul-kumpul, banyak yang membawa senjata. Setelah itu, saya mendengar bunyi petasan kembang api. Seketika itu langsung terjadi tawuran brutal,” kata Rozikin, warga Kaliwungu.

Hal senada dikatakan Jambari, penjaga pabrik di Jalan Lingkar Kaliwungu. Ia mengaku tidak berani melerai, karena banyak siswa yang bersenjata.  “Kemudian polisi datang, dan semua pada kabur,” ujarnya.

Pasca aksi tawuran pelajar di Jalan Lingkar Arteri Kaliwungu, Kamis (19/4/2018) malam, Tim Resmob Polres Kendal mengamankan MAA yang kemudian berkembang dalam pengejaran pelaku yang lain. Hingga akhirnya empat pemuda diamankan di kawasan PKL Kokrosono, Semarang.

Keempat pelajar tersebut berinisial WH, FH, dan AM yang mengaku siswa SMK Negeri 10 Semarang, dan seorang lagi berinisial RK yang mengaku siswa SMK Mataram Semarang.

Kepala SMK Negeri 10 Semarang, Bambang Sudjatmiko, membenarkan salah satu siswa yang diamankan, yakni MAA sempat bersekolah di SMKN 10 Semarang. Namun berdasarkan data sekolah, MAA sudah dikembalikan ke orangtuanya sejak Desember 2017.

“FH juga sama, sekitar bulan Desember tahun lalu. Kasusnya kurang lebih sama, lantaran tawuran pada 2016. Tetapi saya tegaskan, kalau MAA itu sudah bukan siswa kami lagi,” tegasnya ketika dikonfirmasi Jawa Pos Radar Semarang, Selasa (20/4/2018).

Berkaitan dengan MAA, sambung Bambang, pada 2016 memang tercatat sebagai siswa aktif di satuan pendidikan yang terletak di Jalan Kokrosono tersebut. Namun MAA terlibat masalah hingga mendapat bimbingan BK dan sempat tidak naik kelas.

“Maka, menurut data kami, benar MAA itu siswa kami tahun 2016. Kalau sekarang, terlibat tawuran dan mengaku siswa SMKN 10 itu tidak benar, karena sudah dikembalikan ke orangtuanya,” terang Bambang.

Hingga saat ini, Bambang mengaku belum ada pemanggilan dari kepolisian terkait peristiwa tawuran yang mengakibatkan hilangnya nyawa Wahyu Purnomo. Namun pihaknya akan terbuka dan membantu jika petugas membutuhkan informasi lebih lanjut.

“Yang jelas tadi masih pengumpulan data. Tadi saya juga begitu dapat info langsung konfirmasi dari pihak Polres Kendal, katanya masih mengumpulkan barang  bukti. Kemudian saya menyampaikan, saya siap kalau dimintai keterangan untuk permasalahan ini,” jelasnya.

Lebih jauh Bambang mengatakan, jika terbukti siswanya terlibat dalam tawuran tersebut, maka sanksi pertama yang dijatuhkan adalah pembinaan. Hal tersebut sesuai dengan rencana mutu yang ada di SMKN 10 Semarang. Rencana mutu tersebut, memuat rambu-rambu yang tidak boleh dilanggar oleh siswa.

“Sanksinya kalau ada siswa yang terlibat, tentu nantinya kita kembalikan lagi pada tata tertib yang ada. Pembinaan dulu, kemudian surat peringatan pertama, kedua, dan ketiga, terakhir nanti kita kembalikan kepada orangtuanya,” tandasnya.

Berduka

Rian, salah satu teman Wahyu mengatakan, sehari-hari temannya itu merupakan siswa yang pendiam. Malah nyaris tidak pernah bertingkah layaknya anak nakal pada umumnya. “Saya dan teman-teman merasakan kehilangan dengan kepergian wahyu dengan cepat,” ujarnya.

Selama ini, lanjut dia, Wahyu dirawat oleh kakek dan neneknya sejak kecil. Pasalnya, kedua orangtuanya merantau ke Riau. Rohmat, kakek korban, mengatakan, sebelum kejadian, cucunya pamit hendak pergi ke bengkel untuk praktik kerja industri (prakerin) pada Kamis pagi.

“Biasanya Wahyu pulang sore, tapi ini tidak pulang. Dia juga bilang kalau praktiknya selesai pada Jumat ini saja. Dia itu anak baik, di rumah yang menurut sama saya, dan setiap hari juga mengaji,” katanya sedih. (Wis/Jawapos)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: