Sketsa News
Home Berita Terkini, Headlines, Opini Tentang Bom Surabaya dan Sidoarjo Serta Aksi Terorisme Mei 2018

Tentang Bom Surabaya dan Sidoarjo Serta Aksi Terorisme Mei 2018

BOM GEREJA – Polisi berjaga di sekitar lokasi ledakan di Gereja Pantekosta Pusat Surabaya (GPPS) di Jl Arjuno, Surabaya, Minggu (13/5). Ledakan terjadi di tiga lokasi di Surabaya, yakni di Gereja Kristen Indonesia (GKI), Gereja Pantekosta Pusat Surabaya (GPPS), dan Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela pada waktu yang hampir bersamaan. SURYA/AHMAD ZAIMUL HAQ

Sketsanews.com, Jakarta – Dalam seminggu ini, media dipenuhi dengan berita serangan terduga teroris di beberapa lokasi di Indonesia. Sampai hari ini penangkapan demi penangkapan dilakukan untuk menghindari aksi terorisme selanjutnya.

Tindakan apapun itu yang mengakibatkan kerugian orang lain sampai menghilangkan nyawa seseorang apalagi dengan sengaja merupakan aksi yang tidak dibenarkan dalam agama manapun. Tapi masyarakat Indonesia harus lebih kritis bagaimana proses seseorang melakukan tindakan terror dari nol sampai terjadi sebuah terror.

Apakah masyarakat pernah berfikir bahwa ada jalan yang sangat panjang untuk melakukan sebuah aksi yang luar biasa tersebut. Masyarakat bisa membaca sendiri pengakuan beberapa pelaku Bom Bali 1 dalam tulisan Komisaris Jenderal Polisi Drs. Arif Wachjudi berjudul Misi Walet Hitam – Menguak Misteri Teroris Dr Azhari. Dengan cukup jelas KomJend Drs Arif Wachjudi menceritakan kronologi terkuaknya Bom Bali 1 dari para pelaku.

Secara singkat para pelaku Bom Bali 1 menceritakan sulitnya mencari bahan, sulitnya menentukan target, sulitnya mencari lokasi persiapan, sulitnya meracik, dan tetek bengek yang harus mereka lakukan untuk melaksanakan rencana mereka. Belum lagi sulitnya mencari pelaku dan menjaga semangat pelaku agar tetap pada misi masing-masing. Intinya adalah serba sulit sehingga petugas keamanan dalam hal ini Polri dan jajarannya juga kesulitan menguak misteri ini. Namun sesulit apapun Bom Bali 1 akhirnya terkuak juga pelaku dan sudah mendapat hukuman sesuai dengan konstitusi RI.

Masyarakat harusnya juga cerdas, mengapa Polisi tidak menceritakan pemicu ledakkan dan bahan yang digunakan oleh terduga Teroris pada peristiwa rentetan Bom Surabaya. Apa benar mereka melakukan bom bunuh diri atau justru ada “invisible hand” yang mengendalikan dari jauh.

Pelajaran yang dapat diperoleh dari tulisan KomJen Drs. Arif Wachjudi, Bom yang disiapkan oleh Dr. Azhari memiliki 2 picu ledak, pertama pemicu yang dioperatori oleh pelaku sendiri. Pemicu kedua adalah dengan jarak jauh yang dioperatori pelaku lain mengantisipasi kalau pemicu pertama gagal dan atau pelaku ragu-ragu melakukannya.

Harus ada lembaga independen yang melakukan investigasi terhadap rentetan bom terkhusus yang terjadi di Surabaya kemarin bagaimana urutan ceritanya agar masyarakat tidak penasaran. Jangan sampai sebelum jelas banar apa yang terjadi justru diskusi di media adalah segera meresmikan UU Anti Terro yang masih kontradiksi. Atau menyebarkan islamphobia kalangan masyrakat. Jangan sampai yang terjadi adalah terror pemerintah RI kepada rakyatnya sendiri.

(bin / Portaldailynet)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: