Terusir, Puluhan Tunanetra Tidur di Trotoar Depan Wyata Guna

Puluhan tunanetra tidur di trotoar di depan Balai Rehabilitasi Penyandang Disabilitas Sensorik Netra (BPRDSN) Wyata Guna Bandung di Jalan Pajajaran. (ors/pasjabar)

Puluhan tunanetra tidur di trotoar di depan Balai Rehabilitasi Penyandang Disabilitas Sensorik Netra (BPRDSN) Wyata Guna Bandung di Jalan Pajajaran. (ors/pasjabar)

Sketsanews.com – Puluhan tunanetra tidur di trotoar di depan Balai Rehabilitasi Penyandang Disabilitas Sensorik Netra (BPRDSN) Wyata Guna Bandung di Jalan Pajajaran pada Selasa (14/1/2020) malam.

 Puluhan tunanetra tidur di trotoar di depan Balai Rehabilitasi Penyandang Disabilitas Sensorik Netra (BPRDSN) Wyata Guna Bandung di Jalan Pajajaran. (ors/pasjabar)
Puluhan tunanetra tidur di trotoar di depan Balai Rehabilitasi Penyandang Disabilitas Sensorik Netra (BPRDSN) Wyata Guna Bandung di Jalan Pajajaran. (ors/pasjabar)

Mereka terusir dari asrama Wyata Guna dan mengaku dipaksa meninggalkan lokasi. Itu karena dampak perubahan status dari Panti Sosial Bina Netra (PSBN) menjadi BPRDSN.

Dalam aturan terbaru, siswa yang tinggal di asrama hanya diperbolehkan maksimal menempatinya 6 bulan. Sedangkan para siswa ini sudah tinggal lama di sana, bahkan ada yang belasan tahun.

Sosialisasi sebenarnya sudah dilakukan setahun lebih. Mereka diminta tak tinggal lagi di sana agar peserta didik baru bisa menempati asrama. Tapi, para siswa ini menolak dan ingin status BPRDSN kembali jadi PSBN agar mereka bisa tetap tinggal di sana.

Kemarin malam, setelah dipaksa keluar dari asrama, lebih dari 30 siswa memilih tidur di area trotoar. Mereka pun memasang beberapa spanduk protes.

“Ini aksi spontan dari kami karena kami bingung dari pihak balai tidak ada solusi. Padahal kami sudah konfirmasi dan lain-lain, tapi tidak ada solusi yang tepat sampai sekarang,” ujar Elda Nur Fami, juru bicara aksi.

Selain meminta status PSBN dikembalikan, ia dan rekan-rekannya juga meminta agar pengelolaan Wyata Guna diambil alih Pemprov Jawa Barat. Harapannya, kebijakan pemprov akan lebih memihak dan memahami mereka.

“Kalau enggak, kami minta Permensos (tentang peralihan status Wyata Guna) dicabut. Kalau masih belum bisa juga, kami ingin solusi yang cepat dan tepat karena ingin menyangkut nasib kami dan teman-teman kami,” jelas Elda.

Pantauan Pasjabar.com di lokasi pada Rabu (15/1/2020), para siswa ini masih bertahan di trotoar. Area yang dijadikan tempat mereka tinggal adalah tepat di depan halte bus.

Barang-barang dan tas pun terlihat bertumpuk di sana. Mereka hanya tidur beralaskan karpet. Untuk melindungi dari panas dan hujan, di lokasi dipasang terpal berwarna oranye.

Selain para siswa, di lokasi juga ada beberapa mahasiswa dari beberapa universitas di Bandung. Mereka turut mendampingi untuk memperjuangkan apa yang para siswa harapkan. (ors)

Sumber : pasjabar.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: