Sketsa News
Home Berita Terkini, Editorial, Headlines Tewasnya Terduga Teroris Jefri, Bentuk Nyata Kinerja Densus

Tewasnya Terduga Teroris Jefri, Bentuk Nyata Kinerja Densus

Sketsanews.com, Jakarta – Detasmen Khusus Antiteror kembali menunjukkan kinerjanya kepada masyarakat dengan tewasnya terduga teroris Muhammad Jefry seminggu yang lalu.

Sebagaimana yang beredar di beberapa media bahwa Detasemen Khusus (Densus) 88 menangkap salah seorang terduga teroris di jalan Jendral Sudirman Desa Cipancuh, Kecamatan Haurgeulis, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat. Penangkapan tersebut dilakukan pada Rabu, 7 Februari 2018 sekira pukul 08.15 WIB, saat terduga teroris berinisial MJ (32) berada di depan warung es kelapa muda dengan mengendarai sepeda motor Honda Supra Fit yang hendakr ke arah utara.

Namun yang sangat mengejutkan adalah seperti yang diungkapkan oleh Ardilla mengenai kronologi penangkapan suaminya yang dilakukan Densus 88 dan berujung pada kematian. Kasus itu mengingatkan pada proses penangkapan Siyono pada Maret 2016 lalu. Ummu Umar demikian panggilan Ardilla istrinya Jefry mengatakan bahwa proses penangkapan suaminya tanpa adanya surat penangkapan terlebih dahulu.

Sebenarnya bukan hal yang baru tentang kasus tewasnya para terduga teroris bahkan sebelum proses penangkapan terjadi. Bisa kita lihat, bagaimana Detasemen Khusus 88 Anti Teror menembak mati 2 orang terduga teroris di Nusa Tenggara Barat. Keduanya merupakan anggota Jamaah Anshorut Tauhid (JAT), organisasi yang didirikan oleh Abu Bakar Ba’asyir.

“Pada sekitar pukul 09.45 WITA (hari ini) telah terjadi kontak senjata antara Densus 88 AT dengan Kelompok (pimpinan) Munandar (JAT),” kata Kepala Biro Penerangan Masyarakat Mabes Polri, Kombes Pol Martinus Sitompul dalam siaran persnya pada Senin (30/10/2017).

Insiden tersebut terjadi di Gunung Rite Asakota, tepatnya di Gunung Mawu Rite. Lokasi tersebut dekat dengan perbatasan antara Kota Bima dengan Kecamatan Ambalawi, Kabupaten Bima.

Seperti diungkapkan oleh Sekretaris The Islamic Study and Action Center (ISAC) Endro Sudarsono menyebutnya dengan istilah “extrajudicial killing atau Eksekusi di luar keputusan pengadilan.”

Menurutnya kasus yang paling banyak disebut adalah kasus terbunuhnya Siyono. Pemuda asal Desa Pogung, Klaten, Jawa Tengah, ini ditangkap dan diinterogasi satuan Densus 88 hingga tewas pada Maret 2016.

Selain Siyono, masih ada sederet nama lain yang diduga menjadi korban kekerasan Densus 88, seperti Andika Bagus Setiawan, siswa kelas 2 MAN Jamsaren, Solo, Jawa Tengah, yang dianggap terlibat dalam jaringan teroris. Andika ditemui orang tuanya dalam keadaan babak belur di tahanan.

Menurut orangtua, kondisi Andika sangat mengenaskan. Pemuda itu mengaku menerima kekerasan saat diperiksa Densus setiap Kamis.

Terduga teroris lain banyak yang bernasib lebih naas dari Andika. Mereka belum sempat ditanyai tapi langsung ditembak mati, atau diklaim ditembak mati, meski menurut ISAC juga ditemukan bekas-bekas penyiksaan.

Sebut saja kasus terduga teroris, Fonda Amar Sholikhin. Anak buah kelompok teroris pimpinan Santoso ini diduga dianiaya sebelum meninggal.

Fonda, alias Ponda alias Dodo, dilaporkan tewas tertembak dalam operasi gabungan TNI-Polri di Poso, Sulawesi Tengah, pada 28 Februari 2016.

Seperti yang diungkap oleh salah satu pengurus Dewan Dakwah Islamiyyah Indonesia (DDII) Jawa Tengah (Jateng), Sholahuddin Sutowijoyo, ada rentetan nama-nama lain terduga teroris yang kematiannya tidak pernah terungkap. Pelakunya cuma satu: Densus 88.

Berikut daftar nama dari ISAC dan DDII diambil dari Rappler.

Komisioner Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) Maneger Nasution mengatakan bahwa menurut data Komnas HAM, Siyono adalah orang ke-121 yang tewas sebagai terduga teroris tanpa menjalani proses hukum sejak Detasemen Khusus 88 Antiteror dibentuk.

Pertanyaannya dan kesimpulan adalah kenapa setiap kali terjadi kasus terorisme kebanyakan para terduga teroris mengalami nasib yang serupa yaitu berujung pada kematian.

Beginikah bentuk kerja nyata dari pasukan elit berlambang kepala burung hantu yang selalu siap menerkam mangsanya (orang Islam) baik dalam keadaan hidup atau mati seolah-olah mereka orang yang paling membahayakan di Indonesia. Sementara orang yang terbukti menjual negerinya dibiarkan menghirup udara segar.

(jp)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: