Ulama, Rakyat, dan Demokrasi Lima Tahunan (2)

Foto : istimewa

Oleh Ujang Komarudin (Direktur Eksekutif Indonesia Political Review (IPR) & Pengamat Politik Universitas Al-Azhar Indonesia (UAI) Jakarta) pada hari Kamis, 06 Des 2018

Sketsanews.com, Jakarta – Masyarakat Indonesia sangat agamis, tidak aneh jika petuah ulama diikuti dan dituruti. Dan sebagian masyarakat, terutama kaum santri, apa yang diucapkan ulama akan didengar dan ditaati. “Samina wa athona”, kami mendengar dan kami taat. Ulama panutan akan digugu dan ditiru. Kalamnya menjadi pencerahan. Tindakannya menjadi acuan. Dan ilmunya menjadi rujukan.

Ulama yang menjadi rujukan masyarakat bukan sembarang ulama. Tetapi ulama yang hebat secara pemikiran, halus dalam bertutur kata, sopan dalam berperilaku, ikhlas dalam berdakwah, objektif dalam menilai, dan membumi dalam bergaul.

Jika kita petakan dari pengaruh kelima ulama tersebut. Pemilih atau masyarakat yang manut kepada petuah UAS dan HRS akan memilih Prabowo-Sandi. Dan pemilih yang taat kepada perintah UAI, UYM, dan Aa Gym akan memilih Jokowi-Ma’ruf. Wajar jika pemilih Prabowo-Sandi datang dari pemilih yang terpengaruh UAS dan HRS. Karena kita tahu, UAS sempat diisukan menjadi cawapresnya Prabowo. Namun tidak jadi. Dan HRS juga merupakan ulama oposan Jokowi.

Hal yang tidak aneh juga, jika pemilih yang mengikuti perintah UAI, UYM, dan Aa Gym akan memilih Jokowi-Ma’ruf. Karena ketiga ulama tersebut ada di tengah, dan berada
dijalur dakwah. Lebih mementingkan kesatuan umat, bangsa, dan negara. Lebih dari soal dukung mendukung capres dan cawapres. Posisi netral ketiga ulama tersebut, membuat umat nyaman mendukung Jokowi.

Perintah atau telunjuk ulama, akan turut menentukan siapa yang akan terpilih menjadi presiden dan wakil presiden di 2019 nanti. Jika pemilih loyal, manut terhadap UAS dan HRS akan memilih Prabowo-Sandi. Dan petuah dan kalam UAI, UMY, dan Aa Gym akan memilih Jokowi-Ma’ruf. Maka 58.7% akan didapat Jokowi-Ma’ruf dan Prabowo-Sandi 29.3%. Artinya Jokowi-Ma’ruf masih unggul dari Prabowo-Sandi.

Jokowi-Ma’ruf juga unggul di pemilih yang menyatakan dan mendasarkan imbauan tokoh lain (seperti politisi, pengamat, pengusaha, akademisi kampus, aktivis LSM, artis terkenal, dll) sebesar 57.3%. Sedangkan Prabowo-Sandi akan dipilih oleh sebanyak 31.6% pemilih.

Jika kita tarik kewilayah Pileg, maka hanya PDIP dan Partai Gerindra yang akan mendapatkan keuntungan elektoral dari persaingan kedua kubu tersebut. PDIP diuntungkan karena masyarakat, tahunya Jokowi adalah kader PDIP. Dan wajar juga jika PDIP menempati hasil survey teratas, dan diprediksi akan menang Pileg 2019 nanti.

Keberhasilan Jokowi dalam memimpin pemerintahan akan membawa keuntungan bagi PDIP. Begitu juga sebaliknya. Jika Jokowi dianggap gagal dalam memerintah, maka PDIP bisa disalip oleh partai lain. Keberhasilan Jokowi dalam memimpin negara, akan
berkorelasi positif dengan kemenangan PDIP di Pileg.

Kelima ulama hebat tersebut dan ulama-ulama yang lainnya, tentu akan jadi incaran dan rebutan para kandidat capres dan cawapres. Begitu juga dengan ulama, yang tidak masuk lima besar, politisi, pengamat, pengusaha, akademisi kampus, aktivis LSM, akan turut serta ambil bagian dalam mempengaruhi pemilih, dengan pernyataan-pernyataan dan keahliannya masing-masing.

Sepertinya Jokowi dan PDIP, lebih percaya diri dan optimis dalam menghadapi kontestasi pesta demokrasi lima tahunan, jika dibandingkan Prabowo-Sandi. Pilpres 2014 yang ketika
itu, pasangan Jokowi-JK, dimana Jokowi hanya sebagai Gubernur DKI Jakarta, mampu mengalahkan Prabowo-Hatta yang didukung banyak partai. Apalagi saat ini, Jokowi sebagai petahana. Tentu lebih siap dan lebih kuat.

Namun di politik apapun bisa terjadi. Prabowo-Sandi bisa saja membalikan keadaan. Tetap waspada. Bukankah begitu!. (As)

Kanal opini adalah media warga. Setiap opini di kanal ini menjadi tanggung jawab penulis.

sumber : teropongsenayan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: