Upah Pekerja Semakin Tinggi, Pabrik Tekstil dan Garmen Tinggalkan Jawa Barat

Pengembangan industri tekstil dan garmen (Istimewa).

Pengembangan industri tekstil dan garmen (Istimewa).

Sketsanews.com, Jakarta – Kenaikan upah pekerja yang menjadi yang turut menopang pertumbuhan ekonomi Jawa Barat belakangan ini ternyata turut berdampak kurang baik bagi pengembangan industri tekstil dan garmen. Mereka memilih hengkang ke daerah lain yang ongkos produksinya lebih murah.

Pribadi Santoso, Kepala Grup Advisory & Pengembangan Ekonomi Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Barat mengatakan kenaikan UMK [Upah Minimum Kabupaten/Kota] yang sebesar 8,03% menopang ekonomi Jawa Barat sehingga mampu tumbuh sebesar 5,43% pada kuartal I/2019.

Dia menyebutkan pencapaian pertumbuhan ekonomi Jawa Barat itu lebih tinggi dibandingkan dengan growth ekonomi nasional yang 5,07%. Di kuartal II/2019, Bank Indonesia memproyeksikan ekonomi Jabar kembali tumbuh tinggi di level 5,59%

Namun, Pribadi mengemukakan tren penurunan harga komoditas global yang diikuti tensi perang dagang antara Amerika Serikat dan China yang kembali memanas, dikhawatirkan akan mempengaruhi kinerja ekspor daerah dan kontribusi manufaktur Jawa Barat.

Salah satu sektor yang menghadapi tantangan pertumbuhan ekonomi global yang menurun adalah eksportir tekstil dan garmen di Jawa Barat. Kenaikan upah pekerja juga memberikan kontribusi terhadap penurunan kinerja eksportir manufaktur di Jawa Barat.

Pribadi mengungkapkan kondisi tersebut membuat banyak perusahaan tekstil dan garmen di Jawa Barat kesulitan dalam beroperasi.

Berdasarkan data Apindo dan Disnarkertrans pada periode 2015-2018, terdapat 21 perusahaan yang melakukan relokasi ke provinsi lain yang upah pekerjanya lebih rendah seperti Jawa Tengah. Sementara itu 143 perusahaan memilih tutup.

Dari 21 perusahaan yang melakukan relokasi, jenis industri utamanya adalah garmen (48%) dan tekstil (14%).

Relokasi yang dilakukan perusahaan tekstil dan garmen terbanyak berasal dari Kabupaten Karawang, dengan UMK 2019 yang mencapai Rp4,23juta, atau tertinggi di Jabar.

“Selain faktor upah, juga ada persoalan persaingan di pasar global. Negara seperti China dan Vietnam menjadi tujuan mereka,” kata Pribadi dalam diskusi dengan media di Bandung, Sabtu (18/3).

Dia mencontohkan ada satu perusahaan yang memilih hengkang dari Jawa Barat untuk pindah ke Vietnam karena ongkos upah pekerja yang lebih murah dan memiliki produktivitas 48 jam kerja sepekan, atau di atas rata-rata Indonesia yang 40 jam kerja, seperti di kutip dari Bisnis.com.

Namun, Pribadi optimistis pemerintah daerah Jabar telah menyiapkan sejumlah kebijakan untuk menyelesaikan persoalan UMK dan kinerja manufaktur yang melemah tersebut.   (Air)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: