Waspadai Sel Tidur Teroris Jelang Natal-Tahun Baru 2019

Waspadai Sel Tidur Teroris Jelang Natal-Tahun Baru 2019. (Dok. SINDOnews).

Waspadai Sel Tidur Teroris Jelang Natal-Tahun Baru 2019. (Dok. SINDOnews).

Sketsanews.com, Jakarta – Polri mewaspadai potensi peningkatan aktivitas sel tidur teroris menjelang Natal dan Tahun Baru 2019. Secara khusus, polisi memprioritaskan pengamanan di 13 provinsi karena banyak penduduknya beragama Nasrani.

Daerah dimaksud adalah Sumatera Utara, Lampung, Banten, Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogya karta, Jawa Timur, Bali, Sulawesi Utara, Maluku, Nusa Tenggara Timur (NTT), dan Papua.

Untuk melakukan pengamanan, polisi akan mengerahkan Sat gas Antiteror dan Radi kalisme, serta Densus 88 Antiteror. “Ini polda yang punya jum lah umat kristiani cukup banyak, jumlah gereja cukup banyak ini adalah prioritas utama,” ungkap Kepala Biro Pene rangan Masyarakat (KaroPenmas) Mabes Polri Brigjen Pol Dedi Prasetyo di Jakarta kemarin.

Menurut dia, menindak lanjuti kewaspadaan itu Mabes Polri telah menginstruksikan semua kepala polda agar terus melakukan monitor terhadap sel tidur teroris yang dikhawatirkan akan mengganggu penyelenggaraan dia hari besar tersebut.

Seperti yang dikutip dari SINDOnews, Kepolisian juga akan bekerja sama dengan Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT) untuk melakukan mi ti gasi terhadap berbagai gejalaan caman teror. Selain itu, semua tokoh masyarakat daerah rencananya juga dilibatkan polisi untuk melakukan edukasi ke pada warga agar tidak melakukan aksi teror.

“Kami juga melakukan komunikasi dengan TNI, BNPT, intelijen untuk melakukan mitigasi terhadap setiap pergerakan kelompok radikal di tengah masyarakat, dengan sosialisasi dan edukasi maupun penyuluhan langsung dengan BNPT, sebagai sektor terdepan melibatkan tokoh-tokoh agama,” jelasnya.

Direktur Pencegahan BNPT Hamli mengakui adanya potensi ancaman teror yang biasanya sengaja memanfaatkan momentum hari raya, khususnya Natal dan Tahun Baru. Salah satu alasannya agar korban jiwa atas peristiwa itu mencapai jumlah yang banyak.

“Kepolisian tidak boleh lengah di bulan Desember. Para teroris ini, mereka memiliki jadwal sendiri, kami pun juga punya. Biasanya ada waktu-waktu yang harus diwaspadai yakni Natal, Tahun Baru, Ramadan, juga 17 Agustus. Mereka ada jadwal sehingga kita, BNPT dan kepolisian tidak boleh lengah,” tegasnya.

Tidak hanya BNPT dan kepolisian, Hamli mengajak masyarakat juga meningkatkan kewaspadaan. Hamli mengakui pihak intelijen memiliki hasil pemantauan terkait gerakan radikalisme dan terorisme di Indonesia.

Namun secara garis besar, ada waktu-waktu tertentu kewaspadaan ditingkatkan. Dalam catatan terorisme, momen Natal dan Tahun Baru memang beberapa menjadi sasaran aksi teroris.

Menjelang Natal 24 Desember 2000, misalnya, serangkaian ledakan bom terjadi di beberapa kota di Indonesia, merenggut nyawa 16 jiwa dan melukai 96 lainnya serta mengakibatkan 37 mobil rusak. (Eni)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: