Sketsa News
 
Home Berita, Berita Terkini, Headlines, News, Wawancara Wawancara dengan Mantan Napi Teroris Terkait Kerusuhan dan Bom Surabaya

Wawancara dengan Mantan Napi Teroris Terkait Kerusuhan dan Bom Surabaya

Mantan Napiter Hasanudin dalam Acara Silatnas “Bela Baitul Maqdis”, di Hotel Bidakara, Jakarta (25/4/2018).

Sketsanews.com, Jakarta – Pada hari Minggu, 13 Mei 2018 publik dikejutkan oleh peristiwa bom bunuh diri yang terjadi di tiga lokasi di Surabaya dalam waktu yang relatif berdekatan. Peristiwa tersebut disusul peledakan di beberapa kota lain, setelah sebelumnya terjadi kerusuhan di Mako Brimob Depok.

Sketsanews berkesempatan melakukan wawancara via telepon dengan Hasanudin untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas terkait peristiwa di atas dalam perspektif seorang mantan narapidana teroris (napiter).

Bagaimana tanggapan terhadap kerusuhan di Mako Brimob beberapa waktu lalu?

Kejadian di Mako Brimob itu sebenarnya akumulasi dari kekecewaan tahanan napi teroris terhadap pelayanan atau protap atau prosedur seperti pada pemeriksaan, kemudian sweeping barang-barang yang terlarang. Sebagai contoh, dari sumber yang saya dapatkan, ketika sweeping barang-barang terlarang dan mereka tidak mendapatkan hand phone dan barang-barang lainnya. Tidak ada Al Quran, kemudian Al Quran diperlakukan sangat tidak layak, tidak manusiawi dan akumulasi itu kemudian terus berlanjut. Di samping itu juga mungkin perlakuan terhadap istri-istri para napi teroris yang tidak layak, tidak manusiawi menurut kaca mata para napi teroris. Dari akumulasi kekecewaan, kemarahan, kemudian dianggap semacam penghinaan, pelecehan terhadap simbol-simbol agama, termasuk Al Quran itu sendiri, kemudian ada peluang untuk meluapkan kemarahan yang akhirnya terjadilah sebagaimana peristiwa yang kita dengar dan kita lihat lewat media di Mako Brimob.

Apakah ada kaitan dengan peledakan yang terjadi di beberapa kota di Indonesia?

Sebenarnya antara kerusuhan di Mako Brimob dan peledakan di wilayah lain ini kalau mau dikaitkan bisa tidak, bisa juga iya. Bisa tidak karena kalaupun kemudian itu menjadi bagian rangkaian kegiatan kelompok tertentu, apakah itu mengarah kepada ISIS (ISISer) atau Jemaah Anshorud Daulah, maka kemudian kalau itu sebuah perencanaan misalnya, yang di dalam (Mako Brimob, red) akan all out sampai darah penghabisan karena disusul dengan darah-darah berceceran di luar, kalau itu baiat perencanaan, satu paket perencanaan. Saya memandang bukan satu paket perencanaan nampaknya, walaupun ada kaitan secara organisatoris, secara kelompok. Wallaahu alam.

Berdasarkan pengamatan, pelaku dari jaringan atau kelompok mana?

Yang paling mungkin melihat dari pola-pola yang dilakukan, walaupun memang ada beberapa hal yang janggal, adalah mengarah kepada ISIS ataupun Jamaah Anshorud Daulah. Jadi mengarah kesitu. Pola itu dilihat dari perlawanan mereka terhadap aparat keamanan atau perlawanan terhadap toghut.

Pandangan terhadap BIN, Polri dan BNPT yang terkesan kecolongan?

Ya, dari sisi Polri bisa dikatakan kecolongan.  Hal ini karena pola-pola permainan – dalam bahasa saya – tidak sebagaimana prediksi beberapa tahun yang lalu bahwa kerjanya ataupun adanya amaliyat-amaliyat atau teroris-teroris beraksi itu si bulan-bulan Oktober, Nopember, Desember, tahun baru. Tampaknya dari waktu itu atau moment atau timing ada barangkali ada kecolongan atau lengah dari kepolisiannya. Barangkali di luar prediksi mereka. Kemudian dari sisi BNPT, ya memang perlu dipertanyakan kinerjanya selama ini, berkenaan masih banyaknya bahkan grade-nya lebih meningkat pola-pola amaliyat bahkan pola-pola kesadisan itu. Boleh dikatakan sebenarnya pekerjaan atau proyek-proyek atau program-program BNPT kemana selama ini dengan hamburan dana yang begitu luar biasa.

Apakah ini pengalihan isu (seperti yang ramai di medsos)?

Sebenarnya karena ada moment, kalau kita bicara politik, ya politik itu akan memanfaatkan sekecil apapun.yang menguntungkan politik tertentu. Jadi kalau ada pengalihan isu, itu wajar-wajar saja. Artinya ketika sudah kejadian, bagi orang yang mampu mengalihkan isu karena kepentingan ya sah-sah saja, nampaknya bisa saja seperti itu. Tetapi kalau itu direncanakan dari sebelum kejadian untuk mengalihkan isu, saya tidak yakin.

Apakah ada kaitan dengan tahun ini sebagai tahun politik?

Awalnya tidak ada kaitannya dari pelaku. Saya melihat dari sisi pelaku hanya ingin menunjukkan eksistensi bahwa kami ada, kami masih aksis, masih kuat, masih mampu. Barangkali itu pesan yang ingin disampaikan untuk kasus yang ada di Surabaya. Tetapi kemudian apakah ada kaitannya dengan politik, ketika ini sudah terjadi, orang-orang politik ya memanfaatkan mengingat ini tahun politik. Selanjitnya digoreng, diolah, bagaimana menaikkan rating, bagaimana kemudian pencitraan, memang bisa dilakukan karena sudah terjadi dan dimanfaatkanlah moment-moment itu.

Apakah ini skenario untuk mendapatkan kucuran dana?

Kalau skenario sampai ke pelaksanaan itu saya tidak yakin. Misalnya by design-nya sampai ke tata pelaku, diatur oleh si aktor tertentu dalam rangka mendapatkan dana, saya tidak yakin. Tetapi kalau perekrutan pelaku itu dari medsos dari awal, kemudian lewat dunia maya hari ini sangat mungkin-mungkin saja. Misalnya lewat medsos itu seakan-akan ‘pemegang kebijakan’ atau orang yang punya kepentingan ini mementoring, kemudian memberikan arahan-arahan global bahwa dia betul seperti ISIS atau seperti JAD itu sangat mungkin. Tetapi kalau merencanakan sampai menginginkan dana mengucur dari fulan, kemudian merekrut orang secara langsung dan mereka menugaskan juga secara langsung baik sebagai pelaku maupun sebaga aktor, kalau seperti itu tidak . Tetapi kalau lewat medsos mungkin-mungkin saja hari ini.

Apa motif dari peledakan-peledakan ini?

Menurut saya tetap ada dua motif. Kalau itu murni dilakukan oleh kelompok tertentu yang ingin menunjukkan eksistensi (keberadaan) yang hari ini sangat nekad sekali, bahkan belum pernah terjadi sebelumnya. Sampai satu keluarga, itu mungkin pertama kali di dunia. Kalau itu murni, berarti ingin menunjukkan eksistensi dari kelompoknya. Kedua, kalau itu memang by design dari perekrutan tadi, ya itu memang untuk kepentingan-kepentingan baik kekuasaan maupun politik-politik ke depan. Jadi saya masih lebih cenderung yang pertama (ingin menunjukkan eksistensi kelompok, red), kemudian dimanfaatkan yang kedua (pihak yang punya kepentingan, red), ya ketemu kepentingan. Jadi kelompok tertentu menunjukkan eksistensinya seperti itu dan targetpun juga ‘tidak maksimal’, kemudian sekalian saja digoreng, diolah untuk kepentingan tertentu sekalian.

Dengan adanya kerusuhan di Mako Brimob kemudian disusul peledakan di beberapa kota, bisakah Kapolri, KaBIN dicopot?

Sangat mungkin. Artinya ada semacam keteledoran atau semacam ketidakmampuan mendeteksi sehingga menimbulkan bahaya yang besar, bahaya yang luar biasa. Kalau ini kemudian penyelesaian tidak sampai tuntas, maka pola-pola itu akan mengerikan. Kalau satu keluarga sudah berani nekad, apalagi satu orang untuk melakukan bom bunuh diri. Jadi sangat mungkin sekali (Kapolri dan KaBIN, red) dicopot, tergantung bagaimana masyarakat mendesak untuk itu. Menurut saya, langkah-langkah masyarakat ya mungkin tidak langsung minta opsi turunkan Kapolri dan KaBIN, tetapi penyelesaian tuntas itu terjawab atau tidak, baru kemudian nanti dari sisi kelemahan-kelemahan itu.

Ada pesan untuk tokoh-tokoh umat Islam dan masyarakat secara umum?

Bagi tokoh ormas-ormas Islam menurut saya tidak harus merasa kebakaran jenggot atau terlalu emosi dengan menyampaikan misalnya, “yang tidak mengutuk berarti ….”, itu menurut saya tidak bijak. Artinya justru umat Islam, tokoh-tokoh ormas Islam, tokoh-tokoh Ulama mendesak pemerintah untuk menyelesaikan peristiwa ini sampai ke akar-akarnya, siapa dalangnya dan seterusnya. Jadi bukan malah menyalahkan umat Islam itu sendiri. Ulama kita menyalahkan umat Islam sendiri, tokoh-tokoh ormas Islam menyalahkan juga, sebaiknya itu dihindari. Mestinya konsen mengarah ke BIN kenapa bisa begitu, mengarah kepada Kapolri kenapa bisa begitu, kemana saja selama ini dengan kucuran dana yang besar. Itu yang perlu digelindingkan saat ini agar kemudian andaikan tidak sampai mundurnya Kapolri dan KaBIN minimal menjadi bahan evaluasi yang besar terhadap dana-dana yang luar biasa tadi. Sekali lagi umat Islam untuk tidak ikut latah misalnya begini “kami tidak takut teroris” atau “kami tidak takut bom” itu sebenarnya malah menantang teroris, jadi kontra produktif. (Ad)

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: