Sketsa News
Home Berita, Berita Terkini, Headlines, News, Wawancara Wawancara Eksklusif dengan Direktur Pencegahan BNPT

Wawancara Eksklusif dengan Direktur Pencegahan BNPT

 

Direktur Pencegahan BNPT Brigjen Pol. Ir. Hamli, ME (tengah, baju batik) bersama moderator dan pihak penyelenggara Seminar Nasional dengan tema “Melawan Narasi Radikal: Memperkuat Kapasitas Khatib, Pengurus Masjid dan Penyuluh Agama”, yang diselenggarakan di Hotel Bidakara, Jakarta, pada Kamis (26/4/2018). (Foto: Supadiyantoro/Sketsanews.com)

Sketsanews.com, Jakarta – Direktur Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Brigjen Pol. Ir. Hamli, ME.menjadi salah satu narasumber Seminar Nasional dengan tema “Melawan Narasi Radikal: Memperkuat Kapasitas Khatib, Pengurus Masjid dan Penyuluh Agama”, yang diselenggarakan di Hotel Bidakara, Jakarta, pada Kamis (26/4/2018)

Di tengah kesibukannya menerima para peserta seminar yang ingin bertemu setelah seminar berakhir, Sketsanews.com diberi kesempatan untuk melakukan wawancara singkat.

Bagaimana tanggapan anda terhadap tema seminar yang selesai digelar tadi?

Pertama pemerintah wajib mengapresiasi ini, karena kegiatan ini dilakukan oleh masyarakat. Jadi tidak hanya pemerintah yang melakukan meskipun sebelumnya ikut memberikan informasi-informasi awal sebelum acara ini dibuat bahwa situasinya terakhir ISIS begini, situasi teroris dunia begini sehingga masyarakat diantaranya INSEP memformulasikan apa yang mesti dilakukan.

INSEP sendiri sudah melakukan riset-riset kaitan dengan masjid, kaitan dengan tempat-tempat ibadah yang dianggap ada muatan-muatan radikalnya ketika memberikan khotbah, memberikan pengajian dan seterusnya. Nah, jadi akhirnya ketika seminar ini dilakukan ingin memberikan penguatan, ingin memberikan pemahaman atau tambahan pemahaman narasi-narasi apa saja yang diangkat ISIS atau kaum-kaum radikal ini ketika dia mencari legitimasi bahwa perbuatannya itu adalah sesuai dengan agama. Karena bungkus yang dipakai bungkus agama, maka menjadi penting para ustaz, para penyuluh agama, para khatib untuk melakukan counter narasi, jadi baik orang maupun dengan tulisan. Ini yang harus dilakukan kawan- kawan disini.

Bagaimana pengamatan anda terkait terorisme di Indonesia saat ini, termasuk apakah ada tren tertentu?

Tren sekarang begini, dia kan punya jadwal, jadwalnya itu kalau puasa, lebaran, hari Natal, 17 Agustus, karena event-event itu atau waktu-waktu seperti itu menjadi ghiroh sendiri untuk melakukan radikalisme di Indonesia ini. Kenapa mesti Ramadhan karena itu umat muslim umumnya melakukan amalan-amalan yang berlipat misalnya zakat, shalat malam, puasa dan sebagainya dan mereka melakukan amaliat dari perspektif mereka yaitu untuk menyerang orang lain. Nah, narasi begini yang harus juga dicounter khatib, penyuluh agama.

Upaya apa saja yang sudah dilakukan BNPT untuk melawan narasi radikal?

Kalau masalah kaitan dengan narasi-narasi yang mereka bangun, kami juga sudah melakukan upaya misalnya sinergitas, sinergitas dengan kementerian lembaga, sinergitas dengan CSO (Civil Society Organisation), sinergitas dengan Kemenristekdikti misalnya mahasiswa kita kumpulkan, baik secara offline maupun online sudah kami lakukan.

Sejauh mana efektivitas Upaya tersebut?

Nanti ukurannya kita bisa lihat pada penelitian-penelitian berikutnya. Penelitian yang sekarang sudah kita lakukan kan kita tahu bahwa pemahaman masyarakat Indonesia segini skornya, pemahaman mahasiswa gimana akan kelihatan ketika ada survey-survey atau penelitian-penelitian yang dilakukan baik oleh pemerintah maupun oleh teman-teman CSO. Dan akhirnya kita juga melihat dari aksi terorisme itu sendiri, kalau terorisme aksinya menurun ya insha Allah itu juga salah satu outcome atau indikator yang bisa kita ukur.

Apa langkah-langkah ke depan yang akan dilakukan BNPT?

Model-model semacam ini (seminar, red) akan terus kita lakukan karena kan kita memang tahu masyarakat Indonesia sebenarnya mayoritas itu anti radikal, itu modal sosial buat kita dan itu harus dipertahankan. Kalau hasil survey Wahid Fondation itu kan 72% itu anti radikal, 7,7% mau radikalisme dan 0,4% sudah melakukan radikalisme. Nah yang 7,7% dan 0,4% ini yang harus kita lakukan upaya-upaya agar tidak meningkat dan yang 72% jangan sampai turun.

Planning yang sudah terjadwal ada?

Ada. Misalnya kita membuat counter narasi melalui mahasiswa-mahasiswa yaitu melalui Duta Damai. Kemarin kita baru me-lounching Duta Damai di Banten, tepatnya di Serpong. Ada 60 mahasiswa dari beberapa universitas di Banten dikasih pelatihan blogger, IT maupun disain grafis untuk melawan narasi-narasi yang mereka (kaum radikal) berikan terutama yang menyasar anak-anak muda, mahasiswa maupun pelajar. Maka bahasa yang digunakan ya bahasa-bahasa anak muda, maka kita rekrut anak-muda itu karena yang banyak kena itu jelas anak-anak muda.

(Ad)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: