Sketsa News
 
Home Berita, Berita Terkini, Headlines, News, Wawancara Wawancara Eksklusif dengan Jubir HTI Paska Putusan PTUN

Wawancara Eksklusif dengan Jubir HTI Paska Putusan PTUN

Juru Bicara HTI Muhammad Ismail Yusanto di pintu keluar “kedatangan” Bandara Halim Perdana Kusuma pada 9 Mei 2018 (Foto : Supadiyantoro/Sketsanews.com)

Sketsanews.com, Jakarta – Seluruh gugatan HTI terhadap putusan pemerintah yang mencabut status Badan Hukum Perkumpulan (BHP) HTI yang dibuat pada 19 Juli 2017 ditolak hakim PTUN pada 7 Mei 2018.

Paska putusan hakim PTUN tersebut, Sketsanews berkesempatan melakukan wawancara dengan Juru Bicara HTI Muhammad Ismail Yusanto di pintu keluar “Kedatangan” Bandara Halim Perdana Kusuma, Jakarta setelah mendarat dari Yogyakarta, Rabu (9/5/2018).

Putusan hakim PTUN menolak seluruh gugatan HTI. Tanggapannya?

Kami menilai bahwa itu adalah legalisasi kezaliman. Sejak awal kami menilai bahwa putusan pemerintah yang mencabut Badan Hukum Perkumpulan (BHP) HTI itu adalah sebuah kezaliman. Mengapa dikatakan kezaliman? Karena putusan itu dibuat tanpa dasar yang jelas. Tidak jelas apa salah HTI. Jelas sebuah kezaliman kan? Sebuah kezaliman itu kan harusnya dihentikan, tidak boleh dibiarkan atau diteruskan. Tetapi tanggal 7 Mei kemarin melalui putusan PTUN kezaliman itu disahkan. Karena itulah kami menolak. Jadi putusan PTUN mengesahkan kezaliman, kawan-kawan melawan dengan mengajukan banding.

Kapan banding akan diajukan?

Akta banding itu paling lambat 2 minggu setelah putusan dibacakan dan memori bandingnya paling lambat 3 minggu kalau tidak salah.

Terkait rencana mengajukan banding, apakah seluruh kuasa hukum HTI masih solid?

Masih, masih solid. Kemarin kan kita konferensi pers dan Prof Yusril Ihza Mahendra selaku kuasa hukum dengan tegas mengatakan bahwa dia akan terus mendampingi dalam ikhtiar banding ini.

Adakah kekuatan atau pihak-pihak yang mengintervensi hakim?

Saya tidak tahu. Saya tidak mau menuduh. Tetapi yang kita bisa baca, kita bisa dengar dari seluruh konstruksi hukum yang dibuat oleh hakim, pertimbangan-pertimbangan hukum yang dibacakan kemarin sama persis dengan konstruksi hukum yang dibuat pemerintah, perspektif yang dipakai pemerintah. Jadi usaha kami untuk memberi perspektif baru pada hakim itu tidak dipakai sama sekali, tidak digubris. Kalau itu yang terjadi, ya pasti gugatan kami akan ditolak.

Saya kira hakim tidak mengacu ke hukum formil tapi lebih ke hukum materiil. Kuasa hukum kami menilai bahwa itu pengadilan materiil dan bukan pengadilan formil, padahal harusnya kan pengadilan formil.

Yang jelas office sengketa itu SK, tapi di SK itu tidak ada apa salah kami. Dari sini saja mestinya sudah cukup untuk dibatalkan putusan. Tapi kan ternyata hakim itu mengakui memang di dalam SK itu tidak disebut Hizbut Tahrir itu melanggar apa, dia mengakui itu, anda boleh cek!
Ya kalau memang tidak disebutkan harusnya dibatalkan. Tapi kemudian hakim berkesimpulan sendiri, berasumsi “tetapi dalam pengadilan nyatalah bahwa Hizbut Tahrir itu dipersalahkan melanggar pasal 59 ayat 4 huruf C”. Padahal di SK-nya tidak ada kok kemudian bisa mengambil kesimpulan dari pengadilan itu bagaimana?

Melihat kondisi PTUN seperti ini, seberapa optimis HTI akan menang?

Kami selalu optimis, selalu optimis.

Jika HTI tetap dibubarkan, mungkinkah akan bergabung dengan ormas lain misalnya NU, Muhammadiyah dan lain-lain?

Nah! Itu yang penting untuk diklarifikasi, bahwa tidak ada kata pembubaran itu. Yang ada status BHP HTI dicabut, hanya itu saja. Organisasi itu dibentuk kan bukan oleh BHP, tapi oleh akte pendirian, anggota, lalu disahkan oleh notaris. Dengan begitu berdiri organisasi, lalu dimintakan status badan hukumnya yaitu Badan Hukum Perkumpulan (BHP). Hari ini BHP yang dicabut. Hizbut Tahrir itu menjadi organisasi tanpa BHP, bukan dibubarkan. Kan ada organisasi tanpa BHP. Jadi HTI dibubarkan atau dilarang itu tidak ada.

Tanggapan terhadap ajakan Sekjen PBNU untuk bergabung?

Ya, terima kasih saja.

Adakah ormas-ormas lain yang masih mendukung HTI dengan konsep khilafahnya?

Banyak!

Ormas apa saja?

Saya tidak akan sebutkan, nanti tidak enak. Tapi yang jelas dukungan tetap mengalir, jalan terus. Seperti tadi di pesawat ketemu beliau-beliau (tidak boleh ditulis nama, red) memberi dukungan untuk jalan terus. Mereka tahu kok siapa yang memperlakukan, orangnya seperti apa, perilakunya seperti apa. Bicara Pancasila tapi situasi seperti ini, ada korupsi, ada dominasi asing dan aseng.

Ketika HTI cenderung ke partai PBB, apakah karena Prof Yusril menjadi kuasa hukum HTI?

Yang pasti PBB itu di dalam visi dan misinya menegakkan syariah. Jadi sudah selayaknya kami mendukung partai seperti itu. Kalau ada parpol Islam lain yang punya tujuan yang sama kami akan dukung.

Paska dicabutnya BHP, adakah imbasnya bagi kader-kader HTI, misalnya bercerai-berai?

Tidak ada, masih solid.

Tanggapan terhadap meme 4 dosen ITS dan Unair di medsos yang diancam akan dicopot oleh Rektor jika terbukti mendukung HTI?

Mestinya tidak begitu. Itu kan cuma pendapat terhadap apa yang terjadi pada HTI.Cuma ada dua kemungkinan, mendukung atau tidak mendukung dan masing-masing ada argumennya. Kalau dia berpendapat tidak mendukung keputusan PTUN tentu ada argumennya. Apa semua orang harus berpendapat sama terhadap PTUN? Kan tidak. Kenapa orang berpendapat beda tidak boleh? Publik kan bisa menilai apakah putusan ini benar atau tidak, dimana letak salahnya?

Jadi boleh saja diklarifikasi, tapi mestinya tidak sampai ada langkah-langkah yang lebih lanjut dari itu.

Apa pesan untuk kader-kader HTI menyikapi proses hukum yang sepertinya dipersulit oleh pemerintah?

Mereka sudah tahu, yang dihadapi siapa. Langkah selanjutnya seperti apa, harusnya bagaimana, mereka semua sudah tahu. Ya seperti kemarin yang ditunjukkan pada pembacaan putusan hakim PTUN. Mungkin ada yang mengira bahwa kami akan marah-marah, bakar-bakar, lempar-lempar, merobohkan pagar, kan semua tidak terjadi.

Pesan khusus HTI Pusat untuk HTI di berbagai wilayah di Indonesia?

Mereka semua sudah tahu langkah-langkah apa yang selanjutnya akan dilakukan sebagai seorang Muslim, sebagai pendakwah. (Ad)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: