Sketsa News
Home Berita Terkini, Headlines, Wawancara Mereka Mudah Mengafirkan Orang

Mereka Mudah Mengafirkan Orang

Solahudin | Dok. Tri Hadiyanto

Sketsanews.com – Kelompok terorisme di Indonesia disebut terpecah lima, yang mendapatkan pengaruh dari jaringan Islamic State (IS). Bagaimana pergerakan mereka? Berikut wawancara dengan penulis buku The Roots of Terrorism in Indonesia yang juga peneliti Pusat Kajian Terorisme dan Konflik Sosial Universitas Indonesia, Solahudin, di Jakarta, kemarin.

Apa dampak terpecahnya kelompok IS?
Dampaknya menyebabkan ancaman teror di Indonesia meningkat karena adanya kompetisi antarkelompok.

Bagaimana pola dan target teroris saat ini?
Dulu 2002-2009 targetnya Amerika dan sekutunya, tapi dari 2010 sampai sekarang apa yang disebut musuh yang dekat ialah pemerintah Indonesia yang disebut pemerintah thogut (kafir). Khususnya, polisi yang menangkap teman-teman mereka dan menembak mati. Bahkan, mereka mengeluarkan buku sebagai pedoman untuk membunuh polisi dengan judul Untuk Kupinang Engkau Bidadari dengan Kepala Densus 88.

Apakah terjadi sampai sekarang?
Sejak 2016 serangan teroris bergeser tidak hanya near enemy, tapi juga far enemy. Itulah yang terjadi di Thamrin. IS 2014 akhir menyerukan pendukung IS di seluruh dunia untuk menargetkan warga negara yang bergabung dengan koalisi anti-IS.

Siapa sebenarnya tokoh kunci IS?
Tokoh kunci IS di Indonesia Aman Abdurrahman. Awalnya dia adalah napi teroris kasus Aceh. Sekarang ditahan di LP Pasir Putih, sel isolasi. Dia tokoh salafi dan ustaz, mantan imam Masjid As Shofa di daerah Lenteng Agung. Mengalami radikalisasi setelah baca buku dari tokoh-tokoh radikal Timur Tengah.

Bagaimana cici-ciri kelompoknya?
Dia membawa paham baru takfiri jihadi, lalu ada paham lainnya, tauhid hakimiyah pemerintah thogut (kafir). Kelompok ini terkenal karena mudah mengafirkan seseorang, dan ada ajaran barangsiapa yang tidak mengafirkan ­orang kafir maka dianggap orang kafir.

Dari mana dana untuk aksi teror mereka?
Di awal 2000 saat bom Bali 1 dan 2 serta JW Marriott, para pelaku jelas mengatakan dana dari luar negeri terutama dari Al-Qaeda. Tapi berubah sejak 2010-2015, tidak ada dari luar. Sejak pertengahan 2015 sampai sekarang dana kembali dari luar negeri.

Apa bisa hanya dari lokal?
Pada teror Aceh 2010 yang dipimpin Dulmatin, dana yang terkumpul untuk operasi sekitar Rp1 miliar, hampir semua didapat dari kaum muhsinin. Selain dari orang kaya, juga melakukan aksi kriminal seperti perampokan yang disebut aksi fa’i. Misal, aksi Abu Roban yang lakukan 10 aksi perampokan mendapat dana hampir Rp1,8 miliar.
Yang paling dramatis ialah aksi fa’i online dengan meretas sistem perbankan di Malaysia, dapat sekitar Rp7 miliar. Rencananya untuk membiayai aksi teror di Medan, tapi mereka tergoda beli properti, mobil, motor, dan sumbangkan Rp200 juta ke Poso.

Apa benar perekrutan mereka melalui internet atau media sosial?
Awalnya memang dari internet, tapi sehabis itu ada face to face meeting. Di sana proses seleksi.

Proses pertemuannya melalui apa?
Pengajian, pengajian terbuka, majelis-majelis. Orang ikut, pelan-pelan terdoktrin. Itu pengajian terbuka banyak, Bekasi banyak.

Bagaimana deradikalisasi yang pas?
Yang dilakukan AIDA buat saya menarik, AIDA banyak berhasilnya. Yang dilakukan BNPT atau ­pemerintah undang ulama suruh debat, pertanyaannya efektif tidak? AIDA melakukan dengan cara berbeda, korban ­dipertemukan dengan napi teroris dan ­berhasil. Counter narasi tidak harus dengan ayat lawan ayat, yang hadir ini wajah kemanusiaan.

Sumber : Media Indonesia

(Tri)

%d blogger menyukai ini: